JAKARTA - Pergerakan harga sembako di Jawa Timur terus mengalami fluktuasi dari hari ke hari.
Pada hari ini, beberapa komoditas seperti cabai, telur ayam kampung, dan minyak goreng curah turun. Sementara itu, elpiji, daging ayam kampung, minyak goreng premium, daging sapi, bawang merah dan bawang putih mengalami kenaikan harga.
Memantau harga sembako setiap hari menjadi hal penting bagi masyarakat. Informasi ini membantu pengaturan belanja harian agar pengeluaran rumah tangga tetap terkendali. Selain itu, data harga sembako menjadi indikator untuk menjaga kestabilan ekonomi lokal di tengah situasi pasar yang dinamis.
Perubahan harga sembako dapat memengaruhi pola belanja rumah tangga. Ketika harga naik, masyarakat biasanya menyesuaikan pembelian atau mencari alternatif produk. Sebaliknya, harga turun bisa menjadi momen untuk membeli kebutuhan pokok lebih banyak atau menabung.
Daftar Harga Sembako Terbaru di Jawa Timur
Sembako atau sembilan bahan pokok merupakan kebutuhan dasar sehari-hari masyarakat. Terdiri dari beras, gula pasir, minyak goreng, mentega, daging sapi, daging ayam, telur, susu, bawang merah, bawang putih, garam, dan gas elpiji. Selain itu, cabai menjadi komoditas penting karena sering digunakan untuk berbagai hidangan rumah tangga.
Beras premium saat ini dibanderol Rp 14.888 per kilogram, sementara beras medium Rp 12.891 per kilogram. Gula kristal putih dijual Rp 16.424 per kilogram, dan minyak goreng curah Rp 18.506 per liter.
Daging sapi paha belakang dipatok Rp 120.385 per kilogram, daging ayam ras Rp 36.096 per kilogram, dan daging ayam kampung Rp 69.285 per kilogram. Telur ayam ras dijual Rp 28.720 per kilogram, sedangkan telur ayam kampung Rp 45.082 per kilogram.
Perubahan Harga Sembako Hari Ini
Harga cabai mengalami penurunan cukup signifikan. Cabai merah keriting turun Rp 975 atau 3,02 persen, cabai merah besar turun Rp 1.934 atau 6,67 persen, dan cabai rawit merah turun Rp 1.504 atau 3,43 persen. Telur ayam kampung turun Rp 1.174 atau 2,54 persen, serta minyak goreng curah turun Rp 206 atau 1,10 persen.
Sebaliknya, beberapa komoditas mengalami kenaikan harga. Gas elpiji 3 kg naik Rp 136 atau 0,69 persen, bawang merah naik Rp 370 atau 1,02 persen, bawang putih naik Rp 211 atau 0,67 persen, daging sapi naik Rp 343 atau 0,29 persen, daging ayam kampung naik Rp 148 atau 0,21 persen, dan minyak goreng premium naik Rp 380 atau 1,87 persen.
Harga sembako lainnya relatif stabil tanpa perubahan berarti. Fluktuasi harga ini menjadi sinyal bagi konsumen dan pedagang untuk menyesuaikan strategi belanja dan stok kebutuhan rumah tangga.
Faktor yang Mempengaruhi Perubahan Harga
Perubahan harga sembako dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari biaya produksi hingga cuaca. Jika permintaan meningkat sementara pasokan tetap atau berkurang, harga cenderung naik. Sebaliknya, jika penawaran lebih banyak daripada permintaan, harga bisa turun.
Cuaca ekstrem, bencana alam, dan perubahan musim turut memengaruhi produksi pertanian. Kekurangan pasokan akibat cuaca buruk menyebabkan kenaikan harga beberapa komoditas pokok. Selain itu, kebijakan impor, subsidi, dan regulasi pemerintah bisa menstabilkan atau justru memengaruhi harga di pasar.
Faktor biaya produksi, pupuk, bahan bakar, dan upah pekerja turut menentukan harga. Fluktuasi nilai tukar mata uang, terutama untuk bahan pokok impor, juga bisa memengaruhi harga jual. Masalah distribusi, seperti kemacetan atau keterlambatan pengiriman, menambah dinamika pergerakan harga sembako.
Pentingnya Pemantauan Harga Sembako untuk Rumah Tangga
Masyarakat dianjurkan untuk memantau harga sembako secara rutin. Informasi harga membantu perencanaan belanja agar tetap efisien dan hemat. Ketersediaan data harian memungkinkan masyarakat menyesuaikan pembelian sesuai dengan anggaran rumah tangga.
Pemantauan harga juga bermanfaat bagi pedagang dalam menentukan strategi penjualan. Harga yang transparan meminimalkan risiko penimbunan dan spekulasi di pasar. Dengan cara ini, keseimbangan antara pasokan dan permintaan bisa lebih terjaga, serta stabilitas harga jangka panjang lebih terjamin.
Selain itu, pemerintah dan pemangku kepentingan dapat menggunakan data harga sebagai acuan pengambilan kebijakan. Misalnya, untuk intervensi harga atau subsidi agar tetap stabil. Dengan upaya ini, kebutuhan pokok masyarakat tetap terjangkau dan distribusi sembako berjalan merata di seluruh wilayah Jawa Timur.