JAKARTA - Lesunya industri otomotif tidak serta-merta melemahkan kinerja lini usaha asuransi kendaraan bermotor. Di tengah penurunan penjualan mobil dan sepeda motor, segmen asuransi kendaraan justru tetap menunjukkan daya tahan sebagai salah satu penyumbang terbesar premi di industri asuransi umum nasional.
Kondisi ini menandakan bahwa kebutuhan perlindungan kendaraan masih menjadi prioritas bagi masyarakat dan pelaku usaha.
Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menilai ketahanan tersebut tidak lepas dari karakteristik produk asuransi kendaraan yang memiliki basis risiko luas dan bersifat berkelanjutan.
Perlindungan tidak hanya dibutuhkan oleh pemilik kendaraan baru, tetapi juga kendaraan yang telah lama beroperasi dan masih aktif digunakan dalam aktivitas sehari-hari.
Ketua Umum AAUI Budi Herawan menjelaskan bahwa portofolio asuransi kendaraan bermotor tidak semata bergantung pada penjualan unit baru.
Keberlanjutan premi juga ditopang oleh perpanjangan polis tahunan, pembiayaan kendaraan, serta kebutuhan perlindungan risiko yang terus berjalan.
Basis Risiko Luas Menopang Premi
Menurut Budi, karakteristik inilah yang membuat asuransi kendaraan bermotor tetap menjadi produk ritel utama di industri asuransi umum. Dengan risiko yang relatif mudah dipahami oleh masyarakat, produk ini memiliki tingkat penetrasi yang luas dibandingkan lini usaha lainnya.
“Khususnya melalui perpanjangan polis tahunan, pembiayaan kendaraan, serta kebutuhan perlindungan risiko sehari-hari. Dengan karakteristik risiko yang mudah dipahami oleh masyarakat, asuransi kendaraan bermotor masih menjadi produk ritel utama di industri,” bebernya.
Ia menambahkan, keberadaan kendaraan existing yang jumlahnya jauh lebih besar dibandingkan kendaraan baru menjadi penopang penting stabilitas premi. Selama kendaraan masih digunakan, kebutuhan akan perlindungan tetap ada, terlepas dari kondisi industri otomotif secara keseluruhan.
Meski demikian, AAUI tidak menutup mata terhadap tantangan yang dihadapi perusahaan asuransi. Tekanan persaingan tarif dan penawaran manfaat yang semakin ketat menjadi dinamika yang harus dikelola secara hati-hati agar kinerja tetap sehat dan berkelanjutan.
Tantangan Klaim dan Perubahan Perilaku Konsumen
Selain persaingan, meningkatnya biaya klaim turut menjadi perhatian pelaku industri. Fluktuasi penjualan kendaraan yang terjadi di tengah kondisi ekonomi saat ini tidak serta-merta menurunkan frekuensi klaim. Sebaliknya, biaya perbaikan dan suku cadang cenderung meningkat, sehingga menambah beban perusahaan asuransi.
Budi juga menyoroti perubahan perilaku konsumen yang semakin sensitif terhadap harga. Kondisi ekonomi mendorong masyarakat untuk lebih selektif dalam mengeluarkan biaya, termasuk dalam membeli atau memperpanjang polis asuransi kendaraan.
“Hal ini membuat perusahaan asuransi perlu lebih selektif dalam akuisisi risiko dan penetapan harga,” tegas pria yang juga menjabat sebagai Direktur Utama PT Asuransi Candi Utama tersebut.
Perubahan perilaku ini menuntut perusahaan asuransi untuk menyesuaikan strategi pemasaran dan produk. Pendekatan yang lebih fleksibel, transparan, serta berorientasi pada kebutuhan nasabah dinilai menjadi kunci untuk mempertahankan daya tarik produk asuransi kendaraan bermotor.
Strategi Industri Menjaga Kinerja Premi
Untuk menjaga kinerja premi di tengah tantangan tersebut, AAUI menekankan pentingnya penguatan kualitas underwriting. Seleksi risiko yang lebih cermat diperlukan agar pertumbuhan portofolio tetap sejalan dengan kualitas risiko yang dikelola.
Selain itu, optimalisasi kanal distribusi digital menjadi langkah strategis untuk menjangkau konsumen secara lebih efisien. Pengembangan produk yang relevan, termasuk penyesuaian manfaat dan layanan, juga dinilai penting agar asuransi kendaraan tetap kompetitif.
“Selain itu, peningkatan kualitas layanan klaim dan edukasi kepada konsumen menjadi faktor penting untuk menjaga retensi polis dan memperluas basis nasabah,” tutur Budi.
Data AAUI mencatat pada kuartal III/2025 premi asuransi kendaraan bermotor turun 4,0% secara tahunan menjadi Rp14,11 triliun dari sebelumnya Rp14,69 triliun.
Pada saat yang sama, klaim justru naik 0,7% menjadi Rp5,63 triliun. Menurut Budi, kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan risiko masih dalam batas terkelola, namun tetap memerlukan antisipasi berkelanjutan.
Ke depan, prospek asuransi kendaraan bermotor pada 2026 diperkirakan tetap stabil. Tantangan utama terletak pada keseimbangan antara pertumbuhan premi dan kualitas risiko, di tengah dinamika harga suku cadang dan kompetisi pasar yang tinggi.
“AAUI memandang bahwa pendekatan pertumbuhan yang prudent, berbasis manajemen risiko dan keberlanjutan portofolio, akan menjadi kunci menjaga peran strategis lini usaha kendaraan bermotor di industri asuransi umum,” pungkasnya.
Sejalan dengan itu, Otoritas Jasa Keuangan mencatat bahwa hingga November 2025, asuransi kendaraan bermotor tetap menjadi salah satu kontributor terbesar pendapatan premi di industri asuransi umum.
Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono menyebut produk ini berada di jajaran teratas bersama asuransi harta benda dan asuransi kredit.