PERBANKAN

DBS Indonesia Optimistis Bisnis Wealth Management Tumbuh Dua Digit

DBS Indonesia Optimistis Bisnis Wealth Management Tumbuh Dua Digit
DBS Indonesia Optimistis Bisnis Wealth Management Tumbuh Dua Digit

JAKARTA - Industri perbankan nasional melihat peluang pertumbuhan yang tetap menjanjikan di tengah dinamika ekonomi global. Salah satu segmen yang terus menunjukkan ketahanan adalah bisnis wealth management, yang dinilai masih memiliki ruang ekspansi luas seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap perencanaan keuangan jangka panjang. 

Kondisi ini turut mendorong PT Bank DBS Indonesia untuk menatap tahun 2026 dengan optimisme. DBS Indonesia menargetkan pertumbuhan bisnis wealth management tetap berada pada level dua digit pada 2026. 

Target tersebut dinilai realistis karena sejalan dengan kinerja yang telah dicapai dalam beberapa periode terakhir. Perseroan meyakini bahwa tren positif ini dapat terus berlanjut dengan strategi yang tepat dan fokus pada kebutuhan nasabah.

Head of Investment & Insurance Product, Consumer Banking Group PT Bank DBS Indonesia Djoko Sulistyo menegaskan bahwa segmen wealth management menjadi salah satu pilar utama pertumbuhan bisnis perseroan. Menurutnya, performa segmen ini secara konsisten mencatatkan pertumbuhan yang solid dari tahun ke tahun.

“Kalau itu (wealth management) selalu double digit,” kata Djoko Sulistyo.

Strategi Penetrasi Dan Penguatan Nasabah

Untuk menjaga laju pertumbuhan tersebut, DBS Indonesia mengedepankan strategi peningkatan penetrasi pasar. Pendekatan ini dilakukan melalui dua jalur utama, yakni akuisisi nasabah baru serta penguatan penawaran produk dan layanan kepada nasabah eksisting. Strategi tersebut dinilai mampu memperluas basis nasabah sekaligus meningkatkan nilai portofolio yang dikelola.

Djoko menjelaskan bahwa pertumbuhan wealth management tidak hanya bergantung pada kondisi pasar, tetapi juga pada bagaimana bank mampu mengomunikasikan produk secara tepat sasaran. 

Pemahaman yang baik terhadap kebutuhan dan profil risiko nasabah menjadi kunci dalam menawarkan solusi investasi maupun perlindungan yang relevan.

Menurutnya, komunikasi produk yang efektif akan membantu nasabah memahami manfaat dan tujuan dari setiap instrumen keuangan yang ditawarkan. Dengan pendekatan tersebut, DBS Indonesia optimistis pertumbuhan bisnis wealth management dapat tetap terjaga hingga akhir 2025 dan berlanjut pada 2026.

Optimisme ini juga didukung oleh tren peningkatan minat masyarakat terhadap produk investasi dan perencanaan keuangan jangka panjang. 

Nasabah dinilai semakin terbuka untuk mengelola aset secara lebih terstruktur, tidak hanya untuk kebutuhan saat ini, tetapi juga untuk tujuan masa depan.

Peran Bancassurance Dalam Mendorong Pertumbuhan

Selain produk investasi, bisnis asuransi melalui skema bancassurance turut menjadi salah satu penopang utama kinerja wealth management DBS Indonesia. 

Djoko menyebut bahwa produk investasi dan asuransi memiliki hubungan yang saling melengkapi dalam membangun portofolio keuangan nasabah.

Ketika ditanya mengenai kontribusi asuransi terhadap bisnis wealth management, Djoko menegaskan bahwa bancassurance memegang peranan penting. Produk asuransi tidak hanya memberikan perlindungan, tetapi juga menjadi bagian dari strategi perencanaan keuangan yang menyeluruh.

Ia pun optimistis bahwa bisnis bancassurance dapat mencatatkan pertumbuhan dua digit hingga akhir 2025. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh peningkatan premi baru, seiring dengan bertambahnya jumlah nasabah dan meningkatnya kebutuhan akan perlindungan finansial.

Dari sisi komposisi produk, bisnis bancassurance DBS Indonesia masih didominasi oleh asuransi tradisional, termasuk produk endowment. Porsi produk ini tercatat berada di atas 70 persen dari total portofolio bancassurance. Sementara itu, sisanya berasal dari produk unit link serta asuransi umum.

Dominasi asuransi tradisional menunjukkan bahwa nasabah masih mengutamakan produk dengan manfaat perlindungan dan kepastian nilai, terutama untuk tujuan keuangan jangka menengah dan panjang.

Tren Minat Asuransi Dan Prospek Ke Depan

Terkait minat masyarakat terhadap asuransi, Djoko menilai bahwa trennya terus menunjukkan perbaikan. Meskipun tingkat penetrasi asuransi di Indonesia masih relatif rendah dibandingkan dengan negara lain, arah perkembangannya dinilai positif.

Peningkatan literasi keuangan menjadi salah satu faktor pendorong utama. Menurut Djoko, edukasi yang semakin luas serta kemudahan akses informasi melalui berbagai platform, termasuk media sosial, telah membantu meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya asuransi.

Masyarakat kini dinilai lebih memahami bahwa asuransi bukan sekadar produk pelengkap, melainkan bagian penting dari perencanaan keuangan yang komprehensif. Kesadaran ini mendorong pertumbuhan permintaan terhadap produk perlindungan, baik yang bersifat tradisional maupun yang dikombinasikan dengan unsur investasi.

“Tapi yang pasti, saya melihat trennya positif secara keseluruhan,” kata Djoko.

Dengan tren tersebut, DBS Indonesia memandang prospek bisnis wealth management dan bancassurance tetap terbuka lebar. Perseroan berkomitmen untuk terus menghadirkan solusi keuangan yang relevan, inovatif, dan sesuai dengan kebutuhan nasabah di berbagai segmen.

Ke depan, DBS Indonesia akan terus memperkuat strategi penetrasi pasar, meningkatkan kualitas komunikasi produk, serta memperluas edukasi keuangan kepada masyarakat.

 Langkah ini diyakini dapat menjaga pertumbuhan bisnis wealth management tetap berkelanjutan, sekaligus memperkuat posisi DBS Indonesia di segmen layanan perbankan berbasis kekayaan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index