JAKARTA - Aktivitas penyeberangan laut antara Singkil dan Gunung Sitoli kembali berjalan normal dengan dukungan kapal ferry reguler.
Jalur ini menjadi salah satu akses penting bagi mobilitas penumpang dan kendaraan antarwilayah kepulauan. Kelancaran layanan memberikan kepastian perjalanan bagi masyarakat yang bergantung pada transportasi laut.
Kapal ferry masih menjadi pilihan utama karena mampu mengangkut penumpang sekaligus kendaraan dalam satu perjalanan. Selain efisien, moda transportasi ini juga mendukung distribusi barang antarwilayah. Keberadaan jadwal yang jelas membantu masyarakat merencanakan perjalanan dengan lebih baik.
Pada periode ini, layanan penyeberangan kembali dilayani oleh satu armada utama. Kapal tersebut beroperasi pulang pergi sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Waktu tempuh perjalanan laut mencapai kurang lebih sembilan jam pelayaran.
Rute Penyeberangan Singkil Gunung Sitoli
Penyeberangan dilayani dari Pelabuhan Singkil menuju Pelabuhan Gunung Sitoli dan sebaliknya. Jalur ini menghubungkan wilayah daratan dengan pulau yang memiliki aktivitas ekonomi dan sosial cukup tinggi. Konektivitas laut menjadi penghubung utama bagi arus orang dan barang.
Kapal yang melayani rute ini adalah KMP Wira Mutiara. Armada tersebut kembali beroperasi untuk melayani perjalanan pulang pergi. Kehadiran kapal ini menjadi penopang utama layanan ferry di lintasan tersebut.
Selama perjalanan, penumpang menempuh waktu sekitar sembilan jam di laut. Durasi ini sudah menjadi waktu tempuh standar untuk rute tersebut. Penumpang diimbau mempersiapkan kebutuhan perjalanan dengan baik selama pelayaran.
Jadwal Keberangkatan dan Kedatangan
KMP Wira Mutiara dijadwalkan berangkat dari Pelabuhan Singkil pada pukul 10.00 WIB. Jadwal ini berlaku untuk perjalanan menuju Pelabuhan Gunung Sitoli. Penumpang diharapkan tiba lebih awal untuk proses naik kapal.
Sementara itu, kapal yang datang dari Pelabuhan Gunung Sitoli dijadwalkan tiba di Singkil pada pukul 19.00 WIB. Waktu kedatangan tersebut menyesuaikan dengan durasi pelayaran laut. Kedatangan kapal menjadi momen penting bagi arus penumpang dan kendaraan.
Jadwal keberangkatan dan kedatangan dapat berubah sewaktu-waktu. Perubahan bisa dipengaruhi kondisi cuaca di perairan maupun faktor teknis kapal. Penumpang disarankan selalu memantau informasi terbaru sebelum berangkat.
Tarif Penumpang dan Kendaraan
Tarif penyeberangan ditetapkan berdasarkan kategori penumpang dan jenis kendaraan. Penumpang dewasa dikenakan tarif Rp 52 ribu per orang. Sementara itu, penumpang bayi dikenakan tarif Rp 5 ribu.
Untuk kendaraan, sepeda termasuk dalam golongan pertama dengan tarif Rp 54 ribu. Sepeda motor dengan kapasitas mesin di bawah 500 CC dikenakan tarif Rp 82 ribu. Sepeda motor di atas 500 CC masuk golongan berikutnya dengan tarif Rp 101 ribu.
Kendaraan penumpang dikenakan tarif Rp 879 ribu per unit. Sementara kendaraan barang dikenakan tarif Rp 721 ribu. Penetapan tarif ini disesuaikan dengan ketentuan lintasan penyeberangan yang berlaku.
Faktor yang Mempengaruhi Operasional
Operasional kapal ferry dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal dan internal. Kondisi cuaca menjadi salah satu faktor utama yang dapat memengaruhi jadwal pelayaran. Gelombang tinggi dan angin kencang dapat menyebabkan penundaan.
Selain cuaca, perawatan kapal juga menjadi pertimbangan penting. Kapal harus memenuhi standar keselamatan sebelum berlayar. Proses pemeriksaan rutin dilakukan untuk menjaga keamanan penumpang.
Perubahan jadwal dapat terjadi demi memastikan keselamatan pelayaran. Pihak operator akan menyesuaikan operasional sesuai kondisi lapangan. Keselamatan tetap menjadi prioritas utama dalam layanan penyeberangan.
Peran Operator Penyeberangan
PT Wira Jaya Logitama Lines berperan sebagai pemilik sekaligus operator kapal. Perusahaan ini bergerak di bidang transportasi angkutan penyeberangan di Indonesia. Fokus utamanya adalah menghubungkan wilayah yang dipisahkan oleh perairan.
Layanan penyeberangan berfungsi menghubungkan jalan darat dan pulau-pulau. Peran ini penting untuk mendukung mobilitas masyarakat dan distribusi logistik. Kapal ferry menjadi sarana utama penghubung antarwilayah tersebut.
Melalui layanan ini, pergerakan penumpang dan kendaraan dapat berjalan lancar. Aktivitas ekonomi dan sosial antarwilayah pun dapat terus terjaga. Transportasi laut tetap menjadi tulang punggung konektivitas di wilayah kepulauan.