RDMP Balikpapan Momentum Reintegrasi Pertamina Di Bawah Prabowo

Rabu, 14 Januari 2026 | 09:18:42 WIB
RDMP Balikpapan Momentum Reintegrasi Pertamina Di Bawah Prabowo

JAKARTA - Peresmian Infrastruktur Energi Terintegrasi Pertamina RDMP Balikpapan menjadi tonggak penting dalam perjalanan sektor energi nasional. 

Proyek strategis ini tidak hanya menandai peningkatan kapasitas pengolahan minyak, tetapi juga membuka kembali wacana besar tentang arah pengelolaan Pertamina sebagai perusahaan energi nasional yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB) menilai momentum ini sangat relevan dengan perjuangan panjang mereka dalam mendorong penguatan Pertamina sebagai tulang punggung ketahanan energi Indonesia. 

Di bawah kepemimpinan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, peresmian RDMP Balikpapan dipandang sebagai sinyal kuat bahwa integrasi energi kembali menjadi agenda strategis nasional.

Infrastruktur Energi Terintegrasi Sebagai Arah Kebijakan

FSPPB menyambut penggunaan istilah “Infrastruktur Energi Terintegrasi” dalam peresmian RDMP Balikpapan sebagai pesan kebijakan yang jelas. 

Bagi FSPPB, istilah tersebut bukan sekadar label proyek, melainkan refleksi dari arah pengelolaan energi nasional yang menekankan integrasi rantai nilai dari hulu hingga hilir.

Integrasi ini dinilai menjadi kunci utama dalam memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mewujudkan swasembada energi. 

Dengan rantai pasok yang terhubung secara menyeluruh, Indonesia diharapkan mampu mengelola sumber daya energinya secara lebih efisien, berdaulat, dan berkelanjutan.

Dampak RDMP Balikpapan Terhadap Industri Nasional

Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan memiliki nilai investasi sekitar USD7,4 miliar dan membawa dampak signifikan terhadap kapasitas pengolahan nasional. 

Kilang Balikpapan kini mengalami peningkatan kapasitas dari 260 ribu barel per hari menjadi 360 ribu barel per hari.

Peningkatan ini memperkuat struktur industri pengolahan nasional yang terhubung langsung dengan sektor hulu, sektor hilir, serta industri petrokimia. 

Beroperasinya Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Complex menjadi bukti nyata terwujudnya infrastruktur energi terintegrasi. 

Fasilitas tersebut memungkinkan residu minyak diolah menjadi BBM berkualitas Euro 5 yang lebih bersih dan rendah emisi, sekaligus menghasilkan LPG, propylene, sulfur, dan berbagai produk petrokimia bernilai tambah tinggi.

Dampak langsung dari pengembangan ini adalah penguatan pasokan energi nasional, pengurangan ketergantungan impor, serta peningkatan nilai tambah di dalam negeri. 

Dari sisi kinerja, peningkatan Nelson Complexity Index (NCI) dari 3,7 menjadi 8,0 serta Yield Valuable Product (YVP) dari 75,3 persen menjadi 91,8 persen menegaskan bahwa kilang terintegrasi merupakan fondasi utama efisiensi, daya saing, dan keberlanjutan industri energi nasional.

Harapan Pemimpin Terhadap Peran Strategis Pertamina

Momentum RDMP Balikpapan semakin diperkuat oleh pernyataan para pemimpin bangsa terkait masa depan Pertamina. Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius, dalam sambutannya menegaskan peran vital perusahaan energi pelat merah tersebut.

"Pertamina harus menjadi sokoguru dalam mewujudkan swasembada energi nasional," ujar Simon Aloysius.

Sejalan dengan hal tersebut, Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, juga menaruh harapan besar agar Pertamina kembali pada fungsi strategisnya bagi negara.

"Pertamina yang sebagai national champion kebanggaan bangsa harus mampu kembali menjadi Agent of Change, Agent of Development, dan Agent of Modernization," tegas Presiden Prabowo.

Pernyataan ini dipandang FSPPB sebagai mandat moral dan strategis yang harus diwujudkan melalui kebijakan nyata dalam pengelolaan Pertamina.

Dorongan Reintegrasi Pertamina Hulu Hingga Hilir

FSPPB menilai bahwa harapan besar Presiden Prabowo dan Direktur Utama Pertamina hanya dapat diwujudkan dengan satu prasyarat utama, yakni mengembalikan kekuatan Pertamina sebagai perusahaan yang terintegrasi penuh dari hulu hingga hilir.

FSPPB mendesak agar Pertamina disatukan kembali dari bentuk holding-subholding yang dinilai tidak efisien dan menciptakan tumpang tindih. 

Mereka mendorong pembentukan struktur satu kesatuan National Oil Company (NOC) yang solid di bawah kepemimpinan langsung Presiden Republik Indonesia.

"RDMP Balikpapan membuktikan bahwa integrasi bukan sekadar konsep, tetapi kebutuhan strategis bangsa. Infrastruktur energi terintegrasi hanya akan optimal jika dikelola oleh Pertamina yang terintegrasi secara utuh, dengan arah kebijakan tunggal di bawah kepemimpinan Presiden Republik Indonesia," tegas Presiden FSPPB Arie Gumilar.

Melalui momentum bersejarah ini, FSPPB menegaskan komitmennya untuk terus memperjuangkan reintegrasi Pertamina dari hulu ke hilir. Langkah tersebut diyakini menjadi kunci dalam mencapai ketahanan dan swasembada energi nasional, hilirisasi bernilai tambah tinggi, serta pengelolaan energi yang berkeadilan demi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Terkini