China dan Iran Bahas Penyelamatan Selat Hormuz, Wang Yi Serukan Dialog

China dan Iran Bahas Penyelamatan Selat Hormuz, Wang Yi Serukan Dialog

PORTALVIRAL.ID — Menteri Luar Negeri China Wang Yi menerima Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di Beijing, Rabu (16/9), untuk membahas upaya meredakan konflik di kawasan Teluk. Pertemuan berlangsung saat serangan kelompok Houthi meluas hingga memicu peringatan udara pertama di wilayah Makkah, Arab Saudi.

Dalam keterangan tertulis Kementerian Luar Negeri China yang diakses ANTARA di Beijing, Wang Yi menyebut situasi Timur Tengah terus bergejolak dan berdampak serius pada perdamaian serta pembangunan internasional. China, sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB, menyatakan bersedia memainkan peran konstruktif.

Serangan Houthi Meluas hingga Peringatan Udara di Makkah

Dalam beberapa hari terakhir, kelompok Houthi dari Yaman memperluas serangan ke wilayah Arab Saudi. Pada Selasa (15/9), Badan Pertahanan Sipil Arab Saudi mengeluarkan peringatan serangan udara untuk pertama kalinya di wilayah Makkah, lokasi sejumlah situs suci umat Islam.

Juru Bicara Koalisi pimpinan Arab Saudi yang mendukung pemerintah Yaman, Turki Al-Maliki, mengatakan 13 warga sipil terluka dalam serangan Houthi yang menargetkan Khamis Mushait, Abha, dan Taif di wilayah barat daya negara itu.

Arab Saudi dan Amerika Serikat sejak lama memandang Houthi sebagai "alat" Iran dan menuduh Teheran memasok senjata kepada kelompok tersebut. Iran membantah tuduhan itu.

China Desak Selat Hormuz Segera Dibuka Kembali

Wang Yi menekankan seluruh pihak perlu mengambil langkah efektif untuk segera membuka kembali Selat Hormuz. Menurutnya, keamanan dan kelancaran jalur pelayaran internasional harus dijaga demi stabilitas transportasi energi serta rantai produksi dan pasokan global.

"China tidak ingin ketegangan di kawasan semakin meluas ke Yaman dan Laut Merah. China menyerukan kepada semua pihak agar menghentikan tindakan yang dapat semakin memperumit keadaan dan menyelesaikan persoalan melalui dialog serta perundingan," tegas Wang Yi.

China juga mendorong Iran dan Amerika Serikat tetap bersikap rasional dan menahan diri. Wang Yi menyebut konflik berkepanjangan antara kedua negara tidak sesuai dengan kepentingan bersama maupun masyarakat internasional.

Berdasarkan konsensus yang telah dicapai, Iran dan AS diharapkan membangun kembali mekanisme perundingan dan mengadakan konsultasi substantif mengenai berbagai persoalan yang menjadi perhatian masing-masing.

Memorandum Islamabad 2026 Masih Berlaku

Wang Yi menyatakan China mendukung Iran berdialog dengan negara-negara Teluk dengan saling menghormati kedaulatan wilayah dan keamanan nasional. China juga menegaskan kebijakannya terhadap Iran tetap konsisten dan stabil.

Menurut Wang Yi, situasi saat ini membuktikan arsitektur keamanan di Timur Tengah belum sempurna sehingga perlu direformasi dan diperkuat. China bersedia memperkuat komunikasi dan koordinasi dengan Iran untuk mendorong kemajuan hubungan kedua negara.

Menlu Iran Abbas Araghchi menyampaikan perkembangan terkini situasi di kawasan Teluk dan langkah-langkah yang tengah dipertimbangkan Iran. Ia menegaskan Iran tidak menginginkan konflik berlanjut dan berharap kembali menempuh jalur penyelesaian diplomatik.

"Iran tidak menginginkan konflik terus berlanjut dan berharap dapat kembali menempuh jalur penyelesaian diplomatik. Namun, Iran juga akan tetap teguh mempertahankan hak dan kepentingannya sendiri," kata Araghchi.

Menurut Araghchi, Memorandum Saling Pengertian antara AS dan Iran yang disepakati di Islamabad pada Juni 2026 lalu masih berlaku. Iran juga bersedia mengadakan dialog dan konsultasi dengan negara-negara di kawasan untuk membangun hubungan bertetangga yang baik.

Iran berharap pemulihan perdamaian dan ketenteraman di kawasan dapat terwujud sesegera mungkin melalui jalur diplomasi yang sedang dijajaki kedua pihak.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index