JAKARTA - PT Matahari Putra Prima Tbk. (MPPA), perusahaan yang mengelola jaringan Hypermart, tengah mempersiapkan aksi korporasi besar-besaran dengan melakukan penambahan modal melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD VIII) atau rights issue.
MPPA berencana menerbitkan hingga 24 miliar saham baru dengan nilai nominal Rp50 per saham untuk meningkatkan modal kerja dan mendanai sejumlah akuisisi besar.
Langkah ini sejalan dengan rencana penguatan struktur permodalan perusahaan, khususnya dalam menghadapi berbagai ekspansi dan pengembangan aset yang direncanakan dalam waktu dekat.
Berdasarkan keterbukaan informasi yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia, saham baru yang akan diterbitkan tersebut akan memiliki hak yang sama dengan saham lama, termasuk hak dividen.
Meskipun harga pelaksanaan dan jumlah saham akhir masih akan ditetapkan dalam prospektus setelah persetujuan dari regulator, pemegang saham utama MPPA, PT Multipolar Tbk. (MLPL), telah menyatakan komitmennya untuk menjalankan seluruh haknya dalam rights issue ini.
Bahkan, Multipolar bersedia bertindak sebagai pembeli siaga, dengan kemampuan menyerap sisa saham yang tidak diambil oleh investor lain hingga maksimal 7,56 miliar lembar.
Rencana Pembelian Lahan dan Gedung Senilai Rp780 Miliar
Salah satu tujuan utama dari rights issue ini adalah untuk membiayai ekspansi aset dan penguatan operasional MPPA. Dana yang diperoleh dari aksi korporasi ini akan digunakan untuk pembelian sejumlah lahan dan gedung yang tersebar di berbagai kota di Indonesia.
Pembelian aset ini mencakup beberapa properti strategis yang dianggap dapat mendukung perluasan usaha dan meningkatkan daya saing perusahaan.
MPPA sudah menandatangani perjanjian jual beli untuk enam aset yang berlokasi di beberapa kota besar. Di antaranya, mereka membeli gedung Plaza Gresik yang mencakup tanah seluas 6.704 meter persegi dan bangunan 15.848 meter persegi, dengan nilai transaksi Rp134,5 miliar.
Selain itu, MPPA juga mengakuisisi Sinar Matahari Bogor dengan luas tanah 2.056 meter persegi dan bangunan 1.659 meter persegi dari PT Surya Asri Lestari senilai Rp49,5 miliar. Lalu, terdapat pula pembelian Mega M Kedung Badak Bogor seluas 8.001 meter persegi dan bangunan 26.657 meter persegi, senilai Rp122 miliar.
Rencana pembelian lainnya mencakup Gedoeng Merah ex Matahari Malioboro seluas 5.382 meter persegi, serta beberapa tanah lainnya yang tersebar di berbagai lokasi, termasuk rumah susun seluas lebih dari 16.000 meter persegi dan lahan seluas 38.169 meter persegi di Balaraja.
Total nilai transaksi untuk seluruh pembelian ini mencapai Rp780 miliar, yang akan memberikan dampak positif terhadap operasional perusahaan dan nilai tambah bagi pemegang saham.
Dukungan Pemegang Saham Utama dalam Rights Issue
Sebagai langkah penguatan struktur permodalan, MPPA juga mengungkapkan bahwa pemegang saham utama, PT Multipolar Tbk. (MLPL), akan memastikan pelaksanaan rights issue berjalan lancar.
Dengan komitmen untuk menyerap saham yang tidak diambil oleh investor lain, Multipolar menunjukkan dukungannya yang kuat terhadap pengembangan MPPA. Hal ini juga mengindikasikan bahwa Multipolar melihat potensi besar dalam penguatan aset dan ekspansi MPPA di masa depan.
Meski demikian, pelaksanaan rights issue baru dapat dilakukan setelah mendapatkan persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan pada 30 Maret 2026.
Selain itu, perusahaan juga harus menyampaikan dokumen pernyataan pendaftaran kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan mendapatkan pernyataan efektif dari regulator sebelum pelaksanaan dapat dilaksanakan. MPPA menargetkan seluruh proses, dari persetujuan rapat hingga pernyataan efektif, tidak melebihi 12 bulan.
Impak Positif dari Rights Issue Terhadap Kondisi Keuangan MPPA
Jika seluruh saham baru terserap dengan baik, jumlah saham yang ditempatkan dan disetor akan meningkat dari sekitar 12,96 miliar saham menjadi 36,96 miliar saham.
Ini akan memperkuat posisi keuangan MPPA secara signifikan, terutama dalam hal aset dan ekuitas. Sebagai dampaknya, perusahaan akan memiliki lebih banyak fleksibilitas dalam mengakses sumber pendanaan untuk menjalankan strategi ekspansi dan memperbesar kapasitas operasional.
Namun, jika pemegang saham selain pemegang saham utama tidak mengeksekusi haknya, kepemilikan publik bisa terdilusi hingga maksimum 64,92%, sementara kepemilikan PT Multipolar dapat meningkat hingga sekitar 80,15%. Meskipun demikian, manajemen MPPA optimis bahwa rencana penambahan modal ini akan membawa dampak positif jangka panjang terhadap profitabilitas dan pertumbuhan pendapatan perusahaan.
Dengan penguatan struktur permodalan, MPPA berharap dapat meningkatkan kapasitas ekspansi, baik dalam hal pembukaan gerai baru maupun pengembangan proyek-proyek properti yang sedang berjalan. Selain itu, penguatan aset ini diharapkan dapat memperbaiki daya saing MPPA di pasar retail Indonesia, yang terus berkembang dengan pesat.