OJK

Kinerja Positif Perbankan Indonesia, OJK Ungkap Pertumbuhan Kredit

Kinerja Positif Perbankan Indonesia, OJK Ungkap Pertumbuhan Kredit
Kinerja Positif Perbankan Indonesia, OJK Ungkap Pertumbuhan Kredit

JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) baru-baru ini mengungkapkan bahwa sektor perbankan Indonesia menunjukkan kinerja yang sangat positif. 

Meskipun tantangan ekonomi global tetap ada, intermediasi perbankan di dalam negeri tetap menunjukkan pertumbuhan yang solid, dengan profil risiko yang terjaga dengan baik. 

Mahendra Siregar, Ketua Dewan Komisioner OJK, menyampaikan data yang menggambarkan perkembangan sektor perbankan hingga akhir tahun 2025.

Menurut Mahendra, kredit perbankan pada Desember 2025 mencatatkan angka pertumbuhan yang signifikan, yakni 9,6% secara tahunan (year on year/YoY). Kredit tersebut tercatat mencapai Rp8.585 triliun. 

Salah satu faktor utama yang mendorong pertumbuhan ini adalah sektor kredit investasi yang meningkat tajam, mencatatkan kenaikan sebesar 20,81% YoY. 

Hal ini menunjukkan bahwa sektor investasi Indonesia masih menarik bagi banyak pelaku ekonomi, sekaligus mencerminkan optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Pertumbuhan Kredit Investasi dan Sektor Lainnya

Kredit investasi menjadi pendorong utama bagi sektor perbankan di Indonesia pada 2025. Dengan pertumbuhan yang mencapai lebih dari 20%, kredit investasi menunjukkan bahwa sektor ini sangat penting dalam mendukung ekspansi dan pembangunan infrastruktur. 

Selain kredit investasi, sektor lainnya seperti kredit konsumsi dan kredit modal kerja juga menunjukkan angka pertumbuhan yang positif. Kredit konsumsi tumbuh sebesar 6,58% YoY, sementara kredit modal kerja meningkat 4,52% YoY.

Hal ini menandakan bahwa meskipun ada ketidakpastian ekonomi, sektor perbankan Indonesia berhasil menjaga keseimbangan antara kebutuhan konsumsi rumah tangga dan dukungan terhadap dunia usaha. 

OJK memastikan bahwa kualitas kredit tetap terjaga dengan baik, ditunjukkan dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) gross yang tercatat pada angka 2,05%. Untuk NPL net, angka tersebut berada pada level 0,79%.

 Angka ini menunjukkan bahwa meskipun ada pertumbuhan signifikan dalam kredit, sektor perbankan Indonesia masih mampu menjaga kualitas pinjaman dan mencegah terjadinya risiko kredit yang tinggi.

Pendanaan Perbankan yang Terjaga Kuat

Di sisi pendanaan, Mahendra Siregar juga mengungkapkan bahwa dana pihak ketiga (DPK) di sektor perbankan mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan. 

DPK tumbuh 13,83% YoY, yang menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia terus meningkatkan kepercayaannya terhadap perbankan. Pada akhir 2025, total DPK tercatat sebesar Rp10.059 triliun, yang merupakan angka yang sangat menggembirakan bagi sektor ini.

Dana pihak ketiga terdiri dari berbagai jenis simpanan, termasuk giro, tabungan, dan deposito. Pada Desember 2025, simpanan giro tercatat tumbuh sebesar 19,13%, tabungan tumbuh 8,19%, dan deposito meningkat 14,28%. 

Peningkatan ini mencerminkan optimisme masyarakat terhadap sistem perbankan Indonesia, yang mampu memberikan layanan yang baik sekaligus menjaga kestabilan ekonomi domestik.

Ketahanan Perbankan yang Kuat di Tengah Tantangan

Selain itu, Mahendra juga menyoroti pentingnya ketahanan sektor perbankan Indonesia dalam menghadapi tantangan ekonomi global dan domestik. Ketahanan ini tercermin dari tingkat permodalan yang cukup kuat. 

Di akhir 2025, Capital Adequacy Ratio (CAR) perbankan Indonesia berada di angka 25,87%. Angka ini jauh melebihi standar minimum yang ditetapkan oleh OJK, yang menunjukkan bahwa sektor perbankan Indonesia memiliki daya tahan yang sangat baik terhadap potensi risiko sistemik yang dapat mempengaruhi kestabilan sektor finansial.

Selain itu, indikator likuiditas juga menunjukkan angka yang memadai. Alat Likuid terhadap Non-Core Deposit (AL/NCD) dan Alat Likuid terhadap DPK (AL/DPK) masing-masing tercatat 126,56% dan 28,50%. 

Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan threshold yang telah ditetapkan, yaitu masing-masing 50% dan 10%. Hal ini mencerminkan bahwa perbankan Indonesia tidak hanya tumbuh dengan baik, tetapi juga memiliki daya tahan yang cukup kuat untuk menghadapi potensi krisis likuiditas.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index