JAKARTA - Harga minyak dunia mengalami lonjakan pada hari Rabu, 21 Januari 2026, setelah faktor-faktor yang mempengaruhi pasokan dan ketegangan geopolitik meningkatkan kekhawatiran di pasar global.
Dua peristiwa penting, yaitu penutupan sementara ladang minyak besar di Kazakhstan dan ancaman tarif dari Amerika Serikat terhadap negara-negara Eropa, menjadi pendorong utama lonjakan harga minyak pada hari itu.
Dengan harga minyak Brent yang naik tipis menjadi USD 64,93 per barel dan West Texas Intermediate (WTI) yang tercatat di USD 60,39 per barel, para investor semakin waspada terhadap potensi ketidakstabilan pasokan minyak global.
Meski demikian, faktor-faktor lain, seperti perkiraan peningkatan persediaan minyak mentah AS dan ketegangan politik antara AS dan Eropa, juga turut membayangi tren harga minyak.
Gangguan Pasokan dari Kazakhstan
Salah satu alasan utama melonjaknya harga minyak adalah penutupan sementara dua ladang minyak besar di Kazakhstan. Kazakhstan, sebagai negara penghasil minyak utama di dunia, mengalami gangguan signifikan ketika ladang minyak Tengiz dan Korolev berhenti berproduksi pada hari Minggu, 18 Januari 2026.
Gangguan ini terjadi setelah masalah pada distribusi listrik di kedua ladang tersebut, yang menyebabkan operator Tengizchevroil mengumumkan keadaan force majeure atas pengiriman minyak mentah ke sistem pipa Caspian Pipeline Consortium (CPC).
Tengiz adalah salah satu ladang minyak terbesar di dunia, dan penghentian produksi di sana mempengaruhi aliran pasokan global. Diperkirakan bahwa produksi di ladang-ladang tersebut bisa dihentikan selama tujuh hingga sepuluh hari, yang dapat mengurangi ekspor minyak mentah Kazakhstan ke pasar global. Hal ini tentu menambah ketidakpastian di pasar minyak internasional, yang berkontribusi pada lonjakan harga minyak.
Ketegangan Geopolitik dan Ancaman Tarif AS
Selain gangguan pasokan dari Kazakhstan, ketegangan geopolitik terkait dengan kebijakan Presiden AS Donald Trump turut meningkatkan ketidakpastian di pasar minyak.
Trump baru-baru ini mengancam akan mengenakan tarif tinggi pada negara-negara Eropa yang menentang rencana Amerika untuk mengakuisisi Greenland, sebuah pulau besar di Arktik.
Analis UBS, Giovanni Staunovo, mengungkapkan bahwa meningkatnya ketegangan geopolitik ini dapat menambah tekanan pada pasar minyak, karena tarif yang lebih tinggi berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi global. Ketidakpastian yang ditimbulkan oleh ancaman tarif ini menyebabkan investor semakin menghindari risiko, dan ini mempengaruhi harga minyak dengan mendorongnya naik.
Jika ketegangan ini berlarut-larut, sentimen penghindaran risiko bisa mengarah pada pelemahan harga minyak, namun untuk saat ini, dampaknya cenderung mengarah pada kenaikan harga.
Kenaikan Persediaan Minyak AS Mendukung Pasar
Di tengah situasi geopolitik yang penuh ketegangan, data dari pasar AS menunjukkan adanya kenaikan persediaan minyak mentah dan bensin di Amerika Serikat.
Para analis memprediksi persediaan minyak mentah AS meningkat sekitar 1,7 juta barel dalam pekan terakhir. Namun, persediaan distilat diperkirakan mengalami penurunan.
Data ini dirilis dalam laporan mingguan American Petroleum Institute yang memberikan informasi terkait situasi pasokan di negara konsumen minyak terbesar di dunia tersebut.
Data persediaan ini biasanya menjadi indikator penting bagi pasar minyak global, karena menggambarkan keseimbangan antara penawaran dan permintaan. Meski ada harapan kenaikan persediaan, lonjakan harga minyak terjadi akibat ketegangan pasokan dan geopolitik yang lebih besar.
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi dan Dampaknya pada Permintaan Minyak
Di sisi lain, pasar minyak mendapat dorongan dari proyeksi positif ekonomi China. Negara dengan kapasitas pengolahan kilang minyak terbesar di dunia ini melaporkan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dari yang diperkirakan, dengan angka PDB kuartal keempat yang menguat lebih tinggi dari ekspektasi.
Dalam laporan yang diterbitkan pada Senin, data menunjukkan bahwa ekonomi China tumbuh 5% pada tahun 2025, sementara kapasitas pengolahan kilang minyak negara tersebut naik 4,1% dibandingkan tahun sebelumnya.
Dengan ekonomi China yang terus berkembang, kebutuhan energi, termasuk minyak mentah, diperkirakan akan terus meningkat. Peningkatan produksi minyak mentah di China, yang tercatat tumbuh 1,5% pada tahun 2025, memberikan sentimen positif terhadap pasar minyak global.
Ini menunjukkan bahwa meskipun ada gangguan pasokan dari Kazakhstan dan ketegangan geopolitik, permintaan global untuk minyak, terutama dari negara-negara besar pengimpor seperti China, tetap stabil dan mendukung kenaikan harga.
Penutupan Sesi Perdagangan dan Prospek Pasar Minyak
Secara keseluruhan, pasar minyak dunia pada Rabu, 21 Januari 2026, mengakhiri sesi perdagangan dengan harga yang sedikit lebih tinggi. Harga minyak Brent ditutup pada USD 64,93 per barel, sementara WTI berada pada USD 60,39 per barel.
Lonjakan ini dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari gangguan pasokan di Kazakhstan hingga ketegangan geopolitik yang mempengaruhi pasar.
Meskipun ada beberapa faktor yang membatasi kenaikan harga, seperti kemungkinan meningkatnya persediaan minyak di AS, ketegangan geopolitik dan gangguan pasokan tetap menjadi katalis utama yang memengaruhi pasar minyak.
Untuk jangka pendek, fluktuasi harga minyak sangat dipengaruhi oleh perkembangan lebih lanjut terkait masalah pasokan dan ketegangan global.
Oleh karena itu, para pelaku pasar akan terus memantau dengan seksama dinamika geopolitik dan kebijakan ekonomi di negara-negara besar pengimpor minyak, serta kebijakan produksi dari negara-negara penghasil minyak utama dunia.