JAKARTA - PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) menghadapi tantangan berat di tahun 2025, terutama dengan adanya penurunan permintaan domestik yang cukup signifikan. Namun, meski demikian, prospek pemulihan kinerja yang lebih solid pada tahun 2026 diyakini akan terlihat.
Analis pasar meyakini, berkat faktor-faktor pendukung seperti stabilitas harga bahan baku, potensi pemulihan daya beli masyarakat, dan berbagai stimulus fiskal dari pemerintah, ICBP bisa kembali menunjukkan pertumbuhan yang lebih stabil.
Dalam konteks ini, beberapa risiko tetap ada, tetapi analisis menunjukkan bahwa ICBP tetap memiliki peluang positif untuk tumbuh di masa mendatang.
Tantangan Permintaan Domestik yang Melemah
Permintaan domestik yang melemah menjadi salah satu tantangan terbesar bagi ICBP pada tahun 2025. Dalam laporan keuangan yang dipublikasikan, penjualan domestik ICBP hanya mencatatkan kenaikan sebesar 0,8% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Hal ini mengakibatkan kontribusi penjualan domestik terhadap total penjualan turun menjadi 69%, sedikit berkurang dari angka 70% yang tercatat pada tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan bahwa pasar domestik, yang selama ini menjadi andalan perusahaan, mengalami penurunan yang cukup signifikan.
Walaupun begitu, ICBP mampu mengimbangi penurunan ini dengan meningkatkan penjualan ekspor, yang tercatat mengalami kenaikan sebesar 2,8% dibandingkan tahun lalu.
Pasar ekspor, khususnya Asia dan Afrika, memberikan kontribusi yang cukup positif meskipun terdapat penurunan pengiriman ke beberapa wilayah lain yang turun sebesar 17% year-on-year. Dengan demikian, ICBP dihadapkan pada tantangan ganda: menstabilkan penjualan domestik yang tertekan, sambil memanfaatkan peluang ekspor yang cukup baik.
Sentimen Positif Dari Stimulus Fiskal dan Penurunan Harga Bahan Baku
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menyebutkan bahwa sentimen positif terhadap kinerja ICBP pada tahun 2026 akan datang dari berbagai faktor, salah satunya adalah stimulus fiskal pemerintah.
Penyaluran bantuan sosial dan kebijakan fiskal yang diambil pemerintah untuk mendongkrak daya beli masyarakat diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap konsumsi domestik.
Potensi pemulihan daya beli masyarakat akan menjadi salah satu pendorong utama bagi permintaan produk konsumer di dalam negeri.
Selain itu, faktor eksternal seperti stabilisasi harga bahan baku utama juga memberikan keuntungan bagi ICBP. Harga komoditas penting seperti gandum, minyak kelapa sawit (CPO), dan kentang yang mulai stabil akan berdampak langsung pada pengelolaan biaya operasional perusahaan.
Dengan stabilnya harga bahan baku, perusahaan bisa lebih efisien dalam mengelola biaya produksi dan memperbaiki margin yang sempat tertekan sebelumnya.
Risiko yang Masih Membayangi Kinerja ICBP
Meskipun ada beberapa faktor yang mendukung, tetap ada risiko yang membayangi kinerja ICBP. Salah satu risiko utama adalah lemahnya konsumsi domestik yang terus berlanjut.
Meskipun stimulus fiskal dapat mendorong pemulihan daya beli, namun perubahan pola konsumsi masyarakat yang lebih selektif dan terpengaruh oleh situasi ekonomi global tetap menjadi tantangan.
Fluktuasi nilai tukar juga menjadi risiko besar yang harus diperhatikan. Mengingat ICBP adalah perusahaan yang mengimpor bahan baku dari luar negeri, volatilitas kurs mata uang asing berpotensi meningkatkan biaya impor dan menekan profitabilitas perusahaan.
Ketergantungan pada bahan baku impor, yang sebagian besar dipengaruhi oleh perubahan nilai tukar, membuat ICBP rentan terhadap dampak dari perubahan pasar valuta asing.
Pemulihan Kinerja ICBP pada 2026
Terlepas dari berbagai tantangan yang ada, pemulihan kinerja ICBP diperkirakan akan lebih terlihat pada tahun 2026. Hal ini terkait dengan perbaikan margin yang diharapkan serta adanya pertumbuhan penjualan yang lebih kuat.
Pemulihan yang lebih solid di kuartal IV tahun 2025 akan menjadi tanda awal, dengan harapan bahwa momentum ini akan terus berlanjut hingga 2026.
Abida menambahkan bahwa perbaikan ini kemungkinan akan lebih terlihat pada kinerja laba dan volume penjualan, yang diperkirakan akan tumbuh lebih baik seiring dengan musim yang mendukung.
Dengan stabilnya harga bahan baku dan adanya potensi pemulihan daya beli masyarakat, ICBP berpotensi memperoleh kinerja yang lebih baik, meskipun beberapa risiko tetap ada.
Rekomendasi Saham ICBP
Berdasarkan analisis yang dilakukan oleh Abida Massi Armand, rekomendasi untuk saham ICBP adalah buy dengan target harga yang ditetapkan sebesar Rp 11.500 per saham.
Target harga ini mencerminkan prospek yang cukup cerah untuk ICBP pada tahun 2026, dengan catatan bahwa perusahaan berhasil mempertahankan kestabilan margin, menyesuaikan diri dengan fluktuasi nilai tukar, dan mendapatkan manfaat dari potensi pemulihan konsumsi domestik.
Dengan demikian, meskipun kinerja ICBP pada tahun 2025 belum sepenuhnya optimal, langkah-langkah strategis yang dijalankan perusahaan, serta faktor pendukung dari stabilisasi harga bahan baku dan stimulus fiskal pemerintah, menunjukkan prospek yang positif bagi perusahaan pada tahun mendatang.