Bioetanol

Harga Biodiesel Bioetanol Naik Awal Tahun 2026 Indonesia

Harga Biodiesel Bioetanol Naik Awal Tahun 2026 Indonesia
Harga Biodiesel Bioetanol Naik Awal Tahun 2026 Indonesia

JAKARTA - Kebijakan energi berbasis nabati kembali menjadi sorotan ketika pemerintah menetapkan kenaikan harga biodiesel dan bioetanol untuk periode Januari 2026. 

Di tengah kebutuhan menjaga ketahanan energi sekaligus keberlanjutan lingkungan, penyesuaian harga ini diharapkan mampu menyeimbangkan kepentingan produsen, industri, serta masyarakat sebagai pengguna akhir. 

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan bahwa formula harga tetap mengikuti ketentuan yang berlaku, sehingga transparansi perhitungan bisa dipertanggungjawabkan.

Kenaikan yang terjadi memang tidak terlalu besar, namun cukup memberi sinyal bahwa dinamika harga bahan baku dan kurs rupiah masih memengaruhi struktur biaya bahan bakar nabati. Pemerintah menyebutkan bahwa mekanisme penetapan harga ini bukan hanya soal angka, tetapi juga strategi menjaga keberlanjutan program energi hijau di Indonesia.

Penetapan Harga Biodiesel Awal Tahun

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan Harga Indeks Pasar (HIP) Bahan Bakar Nabati (BBN) jenis biodiesel pada Januari 2026 sebesar Rp 13.631 per liter ditambah ongkos angkut.

Harga ini naik Rp 250 per liter dari harga Desember 2025 sebesar Rp 13.381 per liter, harga baru ini mulai berlaku Januari 2026.

Penetapan ini mengacu pada regulasi yang sudah ada dan rutin diperbarui sesuai pergerakan komponen biaya. Pemerintah menegaskan bahwa penyesuaian tetap diarahkan agar industri tetap berjalan, tetapi masyarakat juga tidak terbebani secara berlebihan.

Dasar Hukum dan Formula Perhitungan Biodiesel

Adapun besaran HIP BBN Biodiesel tersebut ditetapkan sesuai dengan diktum Kesatu Keputusan Menteri ESDM No. 3.K/EK.05/DJE/2024 tentang Harga Indeks Pasar Bahan Bakar Nabati (Biofuel) yang dicampurkan ke dalam jenis bahan bakar minyak.

Secara lebih rinci, perhitungan harga HIP BBN Biodiesel diperoleh dari formula:
HIP = (Harga CPO KPB Rata-Rata + 85 US$/ton) x 870 kg/m³ + Ongkos Angkut.

Untuk informasi, Harga CPO KPB Rata-Rata (25 November 2025 – 24 Desember 2025) adalah Rp 14.250/kg. Kemudian 85 US$/ton merupakan nilai konversi bahan baku menjadi biodiesel. 

Sementara 870 kg/m³ adalah faktor satuan dari kilogram ke liter. Lalu untuk konversi nilai kurs menggunakan rata-rata kurs tengah Bank Indonesia sebesar Rp 16.684/US$.

Melalui formula tersebut, pemerintah ingin memastikan bahwa penyesuaian harga tetap berbasis data, bukan semata keputusan sepihak. Faktor-faktor seperti kurs, harga CPO, hingga ongkos angkut menjadi penentu utama.

Kenaikan Harga Bioetanol yang Lebih Tipis

Selanjutnya, HIP Bioetanol Januari ditetapkan sebesar Rp 8.438 per liter. Harga ini naik tipis jika dibandingkan Desember 2025 sebesar Rp 8.428.

Perhitungan HIP BBN Bioetanol tersebut menggunakan formula yang telah ditetapkan, yaitu:
HIP = (Harga Tetes Tebu KPB Rata-Rata Periode 3 Bulan x 4,125 kg/L) + 0,25 US$/L.

Dengan harga tetes tebu KPB Rata-Rata (15 Agustus 2025 – Desember) adalah Rp 1.034 per kg.

Selanjutnya, 4,125 kg/L merupakan faktor satuan konversi dari kilogram ke liter. Lalu untuk 0,25 US$/L adalah nilai konversi bahan baku menjadi bioetanol. Untuk konversi nilai kurs menggunakan rata-rata kurs tengah Bank Indonesia sebesar Rp 16.685/US$.

Kenaikan yang relatif kecil menunjukkan fluktuasi bahan baku bioetanol tidak sedrastis biodiesel. Namun, tetap saja perubahan harga ini berdampak pada industri yang menggunakan bioetanol sebagai campuran bahan bakar.

Dampak Terhadap Program Energi Ramah Lingkungan

Penyesuaian harga biodiesel dan bioetanol tidak dapat dilepaskan dari komitmen pemerintah mendorong energi terbarukan. Program campuran bahan bakar nabati dalam BBM fosil terus diperluas untuk mengurangi ketergantungan pada impor minyak sekaligus mengurangi emisi.

Dengan mekanisme harga yang jelas, pemerintah berharap produsen tetap termotivasi memasok bahan bakar nabati, sementara konsumen perlahan beradaptasi dengan kebijakan energi yang lebih ramah lingkungan. Untuk jangka panjang, stabilitas program ini diharapkan mendukung transformasi energi nasional.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index