China Perluas Patroli ke Perairan Timur Taiwan, Uji Bentuk Tekanan Baru

Sabtu, 19 September 2026 | 05:14:00 WIB

PORTALVIRAL.ID — Sebanyak 198 kapal komersial diperiksa otoritas maritim China selama empat hari operasi khusus di perairan timur Taiwan, Juni lalu. Operasi itu menandai pertama kalinya China berhasil menegakkan inspeksi wajib secara massal lewat komunikasi radio, termasuk terhadap tiga kapal asing berbendera Singapura, Benin, dan Liberia.

Kementerian Transportasi China menggelar operasi maritim khusus di perairan timur Taiwan pada 6-10 Juni. Kapal-kapal yang melintas dihentikan dan diminta memberi keterangan soal titik keberangkatan serta tujuan mereka.

Menurut kantor berita negara Xinhua, otoritas maritim China memeriksa 198 kapal yang melintas dan "memperbaiki pelanggaran yang melibatkan tiga kapal." Angka itu dipublikasikan terbuka setelah operasi berakhir.

China selama ini mengumumkan inspeksi wajib dalam latihan militernya, tetapi tidak pernah benar-benar menegakkannya. Kali ini berbeda. Kapal Coast Guard China melakukan inspeksi massal melalui komunikasi radio ke seluruh kapal komersial yang melintas.

Pergeseran dari Latihan Terpisah ke Kehadiran Tetap

Pada 4 Juli, Global Times menyatakan patroli maritim China telah masuk "fase baru." Media yang menjadi corong Partai Komunis China itu menyebut pergeseran menuju kerangka yang "lebih sistematis, terinstitusionalisasi, dan jangka panjang," menjauh dari "latihan atau patroli militer yang terpisah-pisah."

Bulan Juli, Coast Guard China mulai merotasi formasi mereka untuk meregularisasi kehadiran penegakan hukum. Global Times menyoroti keuntungan "kehadiran konstan" karena "kehadiran yang ternormalisasi itu sendiri menimbulkan tekanan."

Semakin lama China menahan kapal-kapalnya di posisi, semakin cepat pula mereka bisa memberlakukan karantina. Operasi multi-hari semacam ini berfungsi sebagai uji coba sekaligus normalisasi.

Mengapa Perairan Timur, Bukan Selat Taiwan

Hingga Juni, China tampak memprioritaskan Selat Taiwan, wilayah yang kondisinya paling mendukung untuk invasi amfibi. Operasi maritim terbaru justru terkonsentrasi di perairan seberang selat, di timur Taiwan.

Pesisir timur pulau itu lama dianggap zona prioritas rendah karena pegunungan terjal menyulitkan pendaratan militer. Pilihan beroperasi di timur bukan langkah acak.

Langkah itu memperkecil ruang gerak Taiwan, sejalan dengan strategi "ular piton" China untuk memutus pulau tersebut dari dukungan internasional. China mengklaim patroli itu sebagai respons atas pembicaraan Jepang dan Filipina soal penetapan batas maritim di timur Taiwan.

Beijing berharap dapat mencegah kerja sama strategis dua sekutu AS, satu di utara dan satu di selatan pulau, yang masing-masing bisa berperan krusial dalam konflik Taiwan.

Kapal Riset dan Pemetaan Dasar Laut

Lonjakan tajam kapal riset China di perairan sekitar Taiwan menjadi kebaruan lain dari operasi terbaru. Beijing menegaskan kapal-kapal itu hanya melakukan riset ilmiah kelautan.

Data pelacakan yang tersedia untuk publik menunjukkan kapal-kapal tersebut bisa memetakan medan bawah laut secara sistematis. Pemetaan semacam itu menjadi dasar perencanaan operasi angkatan laut.

Sejak 6 Juni, sedikitnya tujuh kapal riset diduga menjalankan riset dengan aplikasi militer. Operasi ini juga menguji bagaimana negara asing merespons kontrol lalu lintas maritim.

Inggris, Jerman, dan Prancis menerbitkan pernyataan bersama yang menyatakan kekhawatiran atas aktivitas maritim tersebut. Australia menyampaikan keberatan langsung kepada pejabat China.

Seberapa keras Beijing menilai dorongan balik itu akan memengaruhi intensitas operasi berikutnya. Dalam karantina sungguhan, respons negara-negara itu diperkirakan jauh lebih keras.

Negara-negara kawasan dinilai tidak bijak mengabaikan rangkaian tanda ini sebagai hal yang sama seperti sebelumnya. Bentuk tekanan yang lebih intrusif tengah terbentuk di perairan sekitar Taiwan.

Terkini