Indonesia Berpeluang Kuasai Pasar Hilirisasi Logam Tanah Jarang

Selasa, 10 Februari 2026 | 11:51:43 WIB
Indonesia Berpeluang Kuasai Pasar Hilirisasi Logam Tanah Jarang

JAKARTA - Peta persaingan industri mineral global mulai bergeser seiring meningkatnya kebutuhan teknologi modern yang bergantung pada logam tanah jarang. 

Di tengah dominasi negara-negara tertentu, Indonesia mulai melihat peluang strategis untuk masuk lebih dalam ke rantai nilai global melalui penguatan hilirisasi. 

Dengan sumber daya mineral yang melimpah dan dukungan kebijakan, potensi ekonomi dari logam tanah jarang dinilai mampu memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional dalam beberapa tahun ke depan.

Potensi Nilai Pasar Logam Tanah Jarang Indonesia

Badan Industri Mineral mengungkapkan Indonesia berpotensi memperoleh nilai pasar dari hilirisasi logam tanah jarang atau LTJ sebesar US$7,42 miliar atau setara Rp124,76 triliun pada 2030. 

Proyeksi tersebut disampaikan Kepala BIM, Brian Yuliarto, dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI, 9 Februari 2026 Angka tersebut dihitung dengan asumsi kurs Rp16.815 per dolar Amerika Serikat.

Brian menjelaskan, nilai pasar hilirisasi LTJ secara global saat ini mencapai sekitar US$95 miliar. Dari jumlah tersebut, Indonesia dinilai memiliki peluang untuk menguasai kisaran 1% hingga 5% pasar dunia. Jika mengacu pada proyeksi tersebut, potensi nilai pasar LTJ Indonesia berada di kisaran US$4 miliar.

“Kami mencoba menganalisis pasar atau potensi yang dapat Indonesia mainkan di kisaran 1%–5% industri dunia,” ujar Brian.

Menurutnya, angka tersebut merupakan gambaran konservatif dari peluang Indonesia di pasar global. Dengan strategi yang tepat, hilirisasi LTJ dapat menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok mineral kritis dunia.

Peran Mineral Ikutan Dalam Hilirisasi

Brian menambahkan, potensi nilai pasar hilirisasi LTJ Indonesia sejatinya bisa lebih besar. Hal ini disebabkan LTJ memiliki keterkaitan dengan berbagai mineral ikutan lain seperti besi, titanium, aluminium, hingga silika. Mineral-mineral tersebut selama ini kerap belum dimanfaatkan secara optimal dalam kegiatan pertambangan.

Melalui pendekatan hilirisasi yang terintegrasi, pemanfaatan mineral ikutan tersebut diperkirakan dapat menghasilkan tambahan nilai pasar sebesar US$3,42 miliar. Dengan demikian, total potensi nilai pasar hilirisasi LTJ yang dapat diraih Indonesia mencapai US$7,42 miliar.

“LTJ berikat dengan mineral lainnya, dan mineral tersebut juga bisa dimanfaatkan melalui hilirisasi. Sehingga total potensi yang bisa dimanfaatkan Indonesia mencapai US$7,42 miliar,” jelas Brian.

Ia menilai, optimalisasi mineral ikutan akan menjadi kunci untuk meningkatkan efisiensi dan nilai tambah industri pertambangan nasional. Selain itu, pendekatan ini juga sejalan dengan kebijakan pemerintah yang mendorong pengolahan dan pemurnian mineral di dalam negeri guna meningkatkan pendapatan negara.

Strategi Nasional Pengembangan Logam Tanah Jarang

BIM sendiri merupakan lembaga yang relatif baru, dibentuk oleh Presiden Prabowo Subianto pada 2025. Pembentukan BIM ditujukan secara khusus untuk mengembangkan potensi logam tanah jarang di Indonesia yang selama ini belum tergarap maksimal. Lembaga ini diharapkan mampu merumuskan strategi nasional pengelolaan LTJ, mulai dari eksplorasi hingga hilirisasi.

Dalam kesempatan terpisah, Brian menyampaikan terdapat tiga wilayah utama di Indonesia yang memiliki potensi kandungan LTJ, yakni Bangka Belitung, Mamuju, dan sejumlah wilayah di Sulawesi. Ketiga daerah tersebut dinilai memiliki karakteristik geologi yang mendukung keberadaan logam tanah jarang.

Brian menekankan, LTJ saat ini merupakan salah satu mineral paling menjanjikan di dunia. Permintaan global terhadap LTJ terus meningkat seiring berkembangnya teknologi modern.

 Mineral ini memiliki peran penting dalam berbagai produk strategis, mulai dari perangkat elektronik, kendaraan listrik, hingga teknologi pertahanan.

Menurutnya, pengembangan LTJ tidak hanya berdampak pada sektor pertambangan, tetapi juga membuka peluang pengembangan industri manufaktur berbasis teknologi tinggi di dalam negeri.

Tantangan Pengelolaan Dan Prospek Ke Depan

Brian menambahkan, saat ini berbagai universitas di Indonesia tengah melakukan penelitian terkait potensi LTJ sekaligus mempelajari proses pemurniannya. 

Proses pemurnian LTJ membutuhkan teknologi tinggi dan investasi besar, sehingga tidak banyak negara yang mampu menguasainya. Hal inilah yang membuat LTJ menjadi komoditas strategis dan primadona di pasar global.

Bahkan, China menjadikan LTJ sebagai salah satu alat negosiasi dalam tarif perdagangan dengan Amerika Serikat. Fakta tersebut menunjukkan betapa strategisnya peran LTJ dalam geopolitik dan ekonomi global.

Di Indonesia, pengelolaan LTJ saat ini dilakukan oleh PT Timah Tbk. Namun, proses pengembangannya dinilai masih stagnan selama satu dekade terakhir. Terbaru, PT Timah mengungkapkan potensi monasit di Kepulauan Bangka Belitung mencapai 25.700 ton. Perusahaan pun terus berupaya mempercepat pengembangan Pilot Plant LTJ di Tanjung Ular, Kabupaten Bangka Barat.

Monasit merupakan salah satu mineral ikutan logam tanah jarang yang berasal dari kegiatan penambangan bijih timah. Dengan pengelolaan yang tepat, monasit berpotensi menjadi sumber LTJ yang bernilai tinggi bagi Indonesia. 

Ke depan, percepatan hilirisasi dan penguasaan teknologi pemurnian akan menjadi faktor penentu apakah Indonesia mampu benar-benar menguasai peluang besar di pasar LTJ global.

Terkini