JAKARTA - Rasa nyeri pada gigi kerap dianggap sepele dan hanya berkaitan dengan lubang atau gusi bermasalah. Banyak orang memilih menahannya dengan obat pereda nyeri tanpa memeriksakan diri ke dokter gigi.
Padahal, di balik keluhan yang tampak sederhana tersebut, tersimpan risiko kesehatan yang jauh lebih serius, termasuk ancaman terhadap jantung.
Sejumlah penelitian medis menunjukkan bahwa kesehatan mulut tidak berdiri sendiri. Infeksi yang berasal dari gigi dan gusi dapat memicu gangguan pada organ vital lain.
Salah satu yang paling mendapat perhatian adalah kaitannya dengan penyakit jantung, yang hingga kini masih menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia.
Dokter Gigi Umum dari Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, Drg. Rahmanto Budi, MM, mengungkapkan bahwa hubungan antara kesehatan gigi dan jantung sangat erat dan tidak bisa dipandang remeh. Menurutnya, kondisi mulut yang buruk dapat menjadi pintu masuk bagi berbagai penyakit serius.
Keterkaitan Kesehatan Gigi Dan Jantung
Drg. Rahmanto menjelaskan bahwa gigi dan jantung memiliki hubungan yang sangat dekat. Ia mengibaratkan gigi sebagai pagar rumah dan jantung sebagai rumah itu sendiri. Jika pagar rusak dan tidak dijaga, maka berbagai masalah akan dengan mudah masuk dan mengganggu bagian dalam rumah.
"Hubungan gigi dan jantung itu adalah hubungan yang sangat erat. Ibaratnya gigi itu seperti pagar rumah kalau jantung itu rumahnya jadi kalau gigi rusak otomatis akan banyak masalah yang timbul ke dalam rumahnya jika tidak dijaga dengan baik," kata Drg. Rahmanto Budi di akun YouTube PJN Harapan Kita yang dikutip CNBC Indonesia, Senin (9/2/2026).
Ia menambahkan bahwa gigi merupakan salah satu sumber infeksi yang berpotensi menyerang jantung. Keterkaitan ini terutama disebabkan oleh kemiripan jenis bakteri yang hidup di rongga mulut dan yang ditemukan pada kasus penyakit jantung tertentu.
Peran Bakteri Mulut Dalam Penyakit Jantung
Hubungan antara sakit gigi dan penyakit jantung diperkuat oleh temuan ilmiah mengenai keberadaan bakteri mulut dalam timbunan lemak penderita aterosklerosis, yaitu kondisi penyempitan pembuluh arteri. Penelitian menunjukkan bahwa bakteri yang berasal dari rongga mulut dapat berpindah dan menetap di pembuluh darah.
Selain itu, bakteri yang berkembang akibat penyakit gusi juga dapat masuk ke aliran darah. Ketika bakteri tersebut beredar dalam sistem peredaran darah, ia berpotensi mencapai jantung dan memicu berbagai gangguan serius.
Bakteri dari mulut diketahui dapat menginfeksi katup jantung dan mengganggu fungsinya. Risiko ini menjadi lebih tinggi pada individu yang memiliki katup jantung buatan. Dalam kondisi gusi yang meradang atau terinfeksi, yang dikenal sebagai periodontitis, perpindahan bakteri ke aliran darah menjadi lebih mudah terjadi.
"Bakteri dari infeksi gigi dapat menyebar melalui pembuluh darah dan menempel pada area jantung yang rusak atau pada katup jantung. Hal ini dapat memicu peradangan yang berisiko menyebabkan kondisi serius seperti endokarditis," jelas Drg. Rahmanto.
Risiko Serius Akibat Infeksi Gigi
Drg. Rahmanto menekankan bahwa infeksi gigi dan gusi bukan hanya persoalan lokal di rongga mulut. Infeksi yang berlangsung lama dapat memicu peradangan sistemik yang berdampak pada kesehatan jantung secara keseluruhan.
Salah satu risiko paling berbahaya adalah endokarditis infektif, yaitu infeksi pada lapisan dalam jantung atau endokardium. Kondisi ini sering kali dipicu oleh bakteri yang berasal dari mulut dan masuk ke dalam aliran darah.
Selain itu, infeksi gusi kronis dapat meningkatkan zat peradangan dalam darah. Peradangan sistemik ini berkontribusi terhadap percepatan penyumbatan pembuluh darah koroner atau aterosklerosis, yang menjadi faktor utama penyakit jantung koroner.
Karena risiko tersebut, pasien yang akan menjalani operasi jantung di Pusat Jantung Nasional Harapan Kita biasanya diwajibkan menjalani pemeriksaan gigi terlebih dahulu. Skrining ini bertujuan untuk menurunkan risiko infeksi pasca-operasi yang dapat memperburuk kondisi pasien.
Langkah Pencegahan Demi Jantung Sehat
Menjaga kebersihan mulut bukan hanya soal estetika atau kenyamanan, tetapi juga merupakan investasi jangka panjang bagi kesehatan jantung. Drg. Rahmanto menegaskan bahwa pencegahan dapat dilakukan dengan langkah sederhana namun konsisten.
Menyikat gigi secara teratur dengan teknik yang benar menjadi langkah dasar yang tidak boleh diabaikan. Selain itu, pemeriksaan rutin ke dokter gigi tetap diperlukan meskipun tidak ada keluhan yang dirasakan.
Gusi berdarah atau gigi berlubang sebaiknya segera ditangani tanpa menunggu rasa sakit bertambah parah. Penanganan dini dapat mencegah penyebaran bakteri ke bagian tubuh lain, termasuk jantung.
Dengan kesadaran akan pentingnya kesehatan gigi dan gusi, risiko penyakit jantung akibat infeksi dapat ditekan. Perawatan mulut yang baik bukan hanya melindungi senyum, tetapi juga menjaga organ vital tetap berfungsi optimal.