JAKARTA - Upaya pemulihan pascabencana tidak hanya menyangkut perbaikan fisik lingkungan, tetapi juga pemulihan layanan dasar yang menopang kehidupan masyarakat. Salah satu sektor vital yang menjadi perhatian utama adalah kelistrikan.
Di Provinsi Aceh, PT PLN (Persero) bergerak cepat memastikan aliran listrik kembali menyala setelah banjir dan tanah longsor melanda sejumlah wilayah.
Bencana alam yang terjadi menyebabkan jaringan listrik rusak di berbagai titik, mulai dari gardu, tiang, hingga kabel distribusi menuju desa-desa. Kondisi geografis Aceh yang didominasi perbukitan dan pegunungan turut menambah kompleksitas proses pemulihan.
Meski demikian, PLN menegaskan komitmennya untuk menghadirkan kembali listrik bagi masyarakat secepat dan seaman mungkin.
Hingga saat ini, pemulihan kelistrikan di Aceh telah menunjukkan progres signifikan. Ribuan desa kembali menikmati listrik, menjadi penopang utama aktivitas sosial, ekonomi, pendidikan, dan layanan kesehatan pascabencana.
Progres Pemulihan Kelistrikan di Aceh
PT PLN (Persero) mencatat sebanyak 6.432 desa di Provinsi Aceh telah kembali teraliri listrik. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 98,9 persen dari total desa yang terdampak gangguan kelistrikan akibat banjir dan tanah longsor. Capaian ini menjadi bukti percepatan kerja PLN di lapangan, meskipun dihadapkan pada tantangan medan yang tidak ringan.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menyampaikan bahwa proses pemulihan kelistrikan di Aceh dilakukan sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto. Arahan tersebut menekankan pentingnya kecepatan, ketepatan, dan keselamatan masyarakat dalam setiap tahapan penanganan bencana.
“Sejak sistem kelistrikan besar Aceh pulih, kami langsung memfokuskan upaya pada penormalan jaringan distribusi hingga ke desa-desa. Alhamdulillah, hingga saat ini hampir seluruh desa di Aceh telah kembali menyala,” ujar Darmawan.
Pemulihan sistem utama yang telah rampung sebelumnya menjadi fondasi penting bagi distribusi listrik ke wilayah-wilayah terdampak. Beroperasinya kembali gardu induk, pembangkit, dan jaringan transmisi memungkinkan PLN mempercepat penyambungan listrik hingga ke pelosok desa.
Tantangan Medan dan Desa Tersisa
Meski progres pemulihan telah mendekati tuntas, PLN mencatat masih terdapat 68 desa atau sekitar 1,04 persen yang belum teraliri listrik secara normal. Desa-desa tersebut tersebar di delapan kabupaten, yakni Aceh Utara, Aceh Barat, Bireuen, Gayo Lues, Aceh Tamiang, Aceh Timur, Bener Meriah, dan Aceh Tengah.
Darmawan menjelaskan bahwa desa-desa yang masih mengalami pemadaman berada di wilayah dengan tantangan geografis paling berat. Akses jalan menuju lokasi banyak yang terputus, rusak parah, bahkan hilang akibat banjir dan longsor.
“Desa-desa yang masih padam berada di wilayah dengan tantangan geografis paling berat. Akses jalan di sejumlah lokasi terputus, rusak parah, atau bahkan hilang akibat banjir dan longsor, sehingga proses pemulihan membutuhkan waktu serta upaya ekstra. Namun, kami tidak menunggu. Kami terus bergerilya dan menyambung kembali listrik hingga titik terdalam Aceh,” tegas Darmawan.
Kondisi tersebut membuat mobilisasi material, tiang listrik, serta peralatan berat menjadi sangat terbatas. Dalam banyak kasus, petugas PLN harus memikul tiang dan kabel secara manual untuk menembus wilayah yang terisolasi demi mempercepat pemulihan.
Dukungan Genset dan Koordinasi Lapangan
Sambil menunggu jaringan distribusi pulih sepenuhnya, PLN memastikan masyarakat di 68 desa yang belum tersambung tetap mendapatkan pasokan listrik.
Dukungan ini dilakukan melalui Program 1.000 Genset dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Kehadiran genset darurat menjadi solusi sementara agar aktivitas warga tidak terhenti.
General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Aceh, Eddi Saputra, menegaskan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah kerusakan infrastruktur jalan darat menuju lokasi-lokasi terisolir.
Tercatat terdapat 171 titik longsor yang menutup akses serta 14 jembatan rusak, sehingga pergerakan alat berat dan material kelistrikan mengalami hambatan serius.
“Komitmen kami adalah pemulihan jaringan permanen secepat mungkin. Namun, keselamatan petugas dan kemampuan akses alat berat sangat bergantung pada kondisi infrastruktur jalan. Kami terus berkoordinasi dengan TNI, Polri, dan Pemda terkait upaya pembukaan akses di lapangan. Sambil berjalan, kami memastikan warga di 68 desa tersebut tetap teraliri listrik melalui backup genset yang telah kami siagakan bersama Kementerian ESDM,” ujar Eddi.
Koordinasi lintas sektor ini dinilai krusial untuk mempercepat pembukaan akses sekaligus menjaga keselamatan seluruh petugas yang bekerja di lapangan.
Apresiasi Daerah dan Komitmen Berkelanjutan
Eddi juga merinci bahwa fokus utama tim PLN saat ini berada di wilayah-wilayah yang masih terisolir. Di Aceh Tengah, terdapat 36 desa yang sedang diupayakan pemulihan jaringan permanennya. Wilayah Bener Meriah menyusul dengan 13 desa, sementara desa-desa lain berada di Gayo Lues dan Aceh Tamiang.
“Petugas kami di lapangan terus bersiaga di titik terdekat dengan lokasi longsor. Begitu akses memungkinkan untuk dilewati, tim teknis kami akan langsung masuk untuk melakukan perbaikan tiang dan kabel yang roboh akibat bencana,” jelas Eddi.
Upaya keras PLN mendapat apresiasi dari pemerintah daerah. Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, yang terjun langsung mengawal proses pemulihan, mengaku sangat terbantu dengan kerja keras petugas PLN di lapangan.
“Kami melihat perjuangan luar biasa dari petugas PLN yang harus menerjang titik-titik longsor demi bisa masuk membawa material. Kami juga sangat terbantu dengan adanya backup 1.000 genset Kementerian ESDM, sehingga desa-desa kami tetap terang sementara perbaikan jaringan permanen terus diupayakan,” ungkap Haili Yoga.
Dengan fondasi sistem kelistrikan utama yang telah pulih sejak pertengahan Desember 2025, PLN optimistis pemulihan listrik di seluruh Aceh dapat segera diselesaikan. Komitmen ini menjadi bukti kehadiran negara dalam memastikan layanan dasar tetap tersedia bagi masyarakat, bahkan di tengah kondisi darurat.