JAKARTA - Munculnya istilah “super flu virus” dalam pemberitaan dan percakapan publik belakangan ini menimbulkan perhatian luas di masyarakat.
Di satu sisi, informasi tersebut memicu kekhawatiran akan ancaman kesehatan baru. Di sisi lain, ketidakjelasan istilah berpotensi menimbulkan kesalahpahaman yang berdampak pada kepanikan berlebihan.
Situasi ini menuntut pendekatan komunikasi publik yang lebih hati-hati dan terukur. Informasi mengenai temuan kasus influenza yang disebut sebagai super flu perlu disampaikan secara tepat, berimbang, dan berbasis data agar masyarakat tetap waspada tanpa merasa terancam secara berlebihan.
Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Tjandra Yoga Aditama, menegaskan bahwa istilah super flu sejatinya bukan penamaan resmi dalam dunia kedokteran, meskipun istilah tersebut telah digunakan secara luas di berbagai negara.
Istilah Super Flu Dalam Perspektif Medis
Tjandra Yoga Aditama menjelaskan bahwa istilah super flu bukanlah nomenklatur resmi kedokteran. Namun, karena istilah tersebut telah digunakan secara global, maka penggunaannya di Indonesia menjadi sesuatu yang sulit dihindari dalam konteks komunikasi publik.
“Istilah super flu memang bukan penamaan resmi kedokteran, tetapi digunakan luas di dunia, sehingga tentu akan digunakan juga di Indonesia,” kata Tjandr.
Ia menekankan bahwa penggunaan istilah tersebut harus disertai penjelasan yang memadai. Masyarakat perlu memahami bahwa virus influenza yang saat ini banyak ditemukan di berbagai negara tidak selalu menyebabkan penyakit yang lebih berat.
Namun, karakteristik virus yang lebih mudah menular membuat jumlah kasus meningkat dalam waktu relatif singkat. Tanpa penjelasan yang tepat, kondisi ini berisiko menimbulkan persepsi keliru seolah-olah telah muncul virus baru yang jauh lebih berbahaya dari influenza sebelumnya.
Pentingnya Komunikasi Publik Yang Berimbang
Menurut mantan Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan tersebut, komunikasi publik terkait isu super flu harus dilakukan secara cermat. Pendekatan yang digunakan tidak boleh menimbulkan kepanikan, namun juga tidak boleh meremehkan situasi yang ada.
Ia menilai pemerintah dan otoritas kesehatan perlu berhati-hati dalam menyampaikan pesan kepada masyarakat. Informasi harus disampaikan apa adanya, dengan menekankan bahwa peningkatan kasus lebih disebabkan oleh tingginya tingkat penularan, bukan semata-mata karena tingkat keganasan virus.
Dalam konteks ini, peran vaksinasi influenza, terutama bagi kelompok berisiko tinggi, perlu terus ditekankan sebagai langkah pencegahan yang efektif. Upaya edukasi yang konsisten diharapkan dapat membantu masyarakat memahami risiko secara rasional.
“Jangan menganggap tidak ada apa-apa, walau tentu juga jangan menakutkan masyarakat yang tidak perlu,” ujarnya.
Transparansi Data Dan Penguatan Surveilans
Tjandra juga menyoroti pentingnya keterbukaan data epidemiologi dalam menghadapi isu super flu. Menurutnya, data terkait kasus influenza perlu disampaikan secara terbuka dan berkala agar masyarakat dapat mengikuti perkembangan situasi secara objektif.
Ia mencontohkan banyak negara yang rutin merilis data mingguan influenza dari waktu ke waktu. “Kita sebaiknya melakukan hal yang sama,” katanya.
Selain itu, identifikasi sub-clade K pada virus influenza diketahui melalui whole genome sequencing (WGS). Oleh karena itu, penguatan surveilans genomik menjadi sebuah keharusan dalam sistem kesehatan nasional.
Hasil surveilans tersebut juga perlu disampaikan kepada publik secara transparan. Dengan demikian, masyarakat dapat memahami kondisi yang sebenarnya tanpa harus berspekulasi berdasarkan informasi yang tidak lengkap.
Ia menambahkan, sejumlah negara telah melaporkan dominasi virus Influenza A H3N2, meski tidak selalu sub-clade K. Indonesia, menurutnya, perlu menyampaikan data serupa dari berbagai provinsi agar gambaran situasi nasional menjadi lebih jelas.
Kesiapan Fasilitas Kesehatan Dan Vaksinasi
Selain soal komunikasi dan data, Tjandra menekankan pentingnya meyakinkan masyarakat bahwa fasilitas pelayanan kesehatan di semua lini siap menangani kasus influenza, apa pun jenisnya.
Keyakinan ini penting agar masyarakat tidak ragu untuk mengakses layanan kesehatan ketika mengalami gejala, sekaligus mencegah kepanikan yang berlebihan di tengah isu super flu.
Namun demikian, ia juga menyoroti masih rendahnya upaya penggalakan vaksinasi influenza di Indonesia. Padahal, vaksinasi merupakan salah satu langkah preventif paling efektif untuk melindungi kelompok rentan dari risiko komplikasi influenza.
“Sayangnya, memang kita belum menggalakkan vaksinasi influenza secara optimal,” ujar Prof Tjandra.
Menurutnya, momentum perhatian publik terhadap isu super flu seharusnya dapat dimanfaatkan untuk memperkuat edukasi mengenai pentingnya vaksinasi. Dengan komunikasi yang tepat, masyarakat diharapkan tidak hanya waspada, tetapi juga terdorong mengambil langkah preventif yang rasional.
Pendekatan komunikasi publik yang cermat, transparan, dan berbasis data menjadi kunci agar isu kesehatan seperti super flu dapat dipahami dengan benar. Dengan demikian, kewaspadaan publik dapat terjaga tanpa harus dibayangi kepanikan yang tidak perlu.