PaninBank

PaninBank Bukukan Laba Bersih Rp 2,87 Triliun Tahun 2025

PaninBank Bukukan Laba Bersih Rp 2,87 Triliun Tahun 2025
PaninBank Bukukan Laba Bersih Rp 2,87 Triliun Tahun 2025

JAKARTA - Di tengah dinamika industri perbankan yang penuh tantangan sepanjang 2025, kinerja PT Bank Panin Tbk tetap menunjukkan ketahanan. 

Strategi penguatan pendapatan nonbunga, pengelolaan risiko yang hati-hati, serta perbaikan kualitas aset menjadi penopang utama capaian keuangan perseroan. Meski pertumbuhan laba terbilang tipis, struktur fundamental bank dinilai tetap solid.

PT Bank Panin Tbk (PaninBank) membukukan laba bersih sebesar Rp 2,87 triliun sepanjang tahun 2025, tumbuh tipis 0,13% dibandingkan periode yang sama tahun 2024.

Presiden Direktur PaninBank, Herwidayatmo, menjelaskan pertumbuhan laba tahun 2025 terutama ditopang oleh peningkatan pendapatan berbasis komisi (fee-based income) yang naik 3,47% menjadi Rp 2,30 triliun. 

Kenaikan tersebut terutama berasal dari keuntungan transaksi surat berharga. Selain itu, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) juga tumbuh 0,19%, sejalan dengan peningkatan pendapatan bunga.

Kinerja Laba Dan Sumber Pertumbuhan Pendapatan

Pertumbuhan laba yang dicatatkan oleh PT Bank Panin Tbk menunjukkan stabilitas di tengah tekanan sektor perbankan. Walaupun kenaikannya hanya 0,13%, pencapaian ini mencerminkan kemampuan perseroan menjaga profitabilitas.

Peningkatan fee-based income sebesar 3,47% menjadi Rp 2,30 triliun menjadi kontributor utama. Sumber kenaikan tersebut terutama berasal dari keuntungan transaksi surat berharga yang memberikan tambahan pendapatan nonbunga.

Sementara itu, pendapatan bunga bersih (NII) yang tumbuh 0,19% turut memperkuat kinerja. Pertumbuhan ini sejalan dengan peningkatan pendapatan bunga, meskipun ruang ekspansi margin relatif terbatas sepanjang tahun berjalan.

Penyaluran Kredit Dan Perkembangan Aset

Di sisi intermediasi, penyaluran kredit tercatat turun 2,56% yoy menjadi Rp 145,08 triliun pada 2025. Penurunan ini mencerminkan sikap selektif perseroan dalam menyalurkan pembiayaan di tengah kondisi ekonomi yang menuntut kehati-hatian.

Total asetnya pun ikut susut dari Rp 243,95 triliun di 2024 menjadi Rp 237,32 triliun di 2025. Penyesuaian ini terjadi seiring strategi penataan portofolio dan penguatan kualitas pembiayaan.

"Meski demikian, kualitas aset tetap terjaga. Perseroan menerapkan prosedur penilaian risiko secara hati-hati serta mendorong pemulihan kredit restrukturisasi agar kembali ke kategori lancar," kata Herwidyatmo.

Perbaikan Rasio Kredit Bermasalah Dan Permodalan

Upaya pengelolaan risiko tersebut membuahkan hasil positif. Rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) gross membaik menjadi 2,82% dari sebelumnya 3,05%.

Adapun NPL net tercatat sebesar 1,04%. Angka ini menunjukkan kualitas pembiayaan tetap terkendali dan berada dalam batas yang relatif sehat.

Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 2,98% secara tahunan menjadi Rp 156,92 triliun. Sementara itu, total modal perseroan naik 5,07% menjadi Rp 54,98 triliun, sehingga rasio kecukupan modal (CAR) menguat ke level 37,49%.

Strategi Pendanaan Jangka Panjang Dan Penguatan Likuiditas

Untuk memperkuat struktur pendanaan jangka panjang, pada 2025 PaninBank menerbitkan Obligasi Berkelanjutan IV Tahap III Tahun 2025 senilai Rp 3,20 triliun. Langkah ini menjadi bagian dari strategi menjaga likuiditas tetap memadai.

Dengan demikian, total penerbitan obligasi melalui Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) IV Tahap I, II, dan III telah mencapai Rp 7,21 triliun. Penerbitan tersebut memperluas sumber pendanaan di luar dana pihak ketiga.

"Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi memperkuat struktur pendanaan sekaligus menjaga likuiditas dan permodalan tetap solid di tengah dinamika industri perbankan," imbuhnya. 

Dengan struktur modal yang kuat dan rasio CAR di level 37,49%, perseroan memiliki ruang yang cukup untuk mengantisipasi risiko sekaligus menangkap peluang pertumbuhan ke depan.

Secara keseluruhan, kinerja 2025 menunjukkan bahwa PaninBank mampu menjaga stabilitas di tengah tekanan intermediasi. Perbaikan kualitas aset, peningkatan pendapatan berbasis komisi, serta penguatan permodalan menjadi fondasi utama menghadapi tahun berikutnya.

Meski pertumbuhan laba relatif tipis, fundamental keuangan tetap terjaga dengan indikator risiko yang membaik dan likuiditas yang solid. Strategi kehati-hatian dalam penyaluran kredit pun menjadi penyeimbang di tengah dinamika ekonomi dan persaingan industri yang semakin ketat.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index