Gas Masela

Inpex Minta Insentif Gas Masela, Purbaya Tetapkan Syarat

Inpex Minta Insentif Gas Masela, Purbaya Tetapkan Syarat
Inpex Minta Insentif Gas Masela, Purbaya Tetapkan Syarat

JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan kesiapannya untuk memberikan berbagai insentif yang diperlukan oleh Inpex Masela Ltd. dalam mengkomersialisasikan gas dari proyek Lapangan Gas Abadi di Blok Masela, namun dengan catatan harga jual harus kompetitif. 

Langkah ini dinilai penting agar gas domestik dapat dijual dengan harga lebih terjangkau, sekaligus menjaga keseimbangan antara keuntungan perusahaan dan kepentingan konsumen.

Pentingnya Harga Gas Domestik yang Kompetitif

Purbaya menekankan agar gas yang dijual ke pasar domestik memiliki harga lebih murah. Selama ini, industri pengguna merasakan harga yang tinggi, padahal harga di tingkat hulu tergolong kompetitif. Ia menekankan peran perusahaan penyalur, seperti PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. (PGN), agar tidak mengambil margin terlalu tinggi.

“Hitung saja yang betul, kalau bisa murah. Kalau mahal gara-gara perantara intermediate  itu enggak bener juga, naikin harga kasih US$4 masak ke PGN. Ya kan enggak bener. Lu ambil untung di sini, di sana rugi. Padahal harga di sininya [di tingkat hulu] enggak setinggi itu,” ujar Purbaya.

Kemudahan dan Insentif dari SKK Migas

Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, memaparkan sejumlah insentif yang dibutuhkan Inpex untuk mengembangkan Blok Masela. Fokus utama adalah aspek komersialisasi gas, termasuk bantuan pemasaran LNG dan perjanjian jual beli gas (PJBG).

Djoko menjelaskan, berdasarkan kondisi permintaan saat ini, harga LNG dari Blok Masela berpotensi berada di bawah keekonomian. Jika hal ini terjadi, insentif menjadi syarat mutlak agar proyek tetap berjalan. Namun, ia enggan merinci detail insentif yang dimaksud.

“Kan tadi [harga LNG dalam] PoD 13,5% [dari harga ICP] ekonomi sekarang apalagi Bapak mintanya murah, ini bisa di bawah 13,5%. Otomatis mereka minta insentif,” kata Djoko.

Selain itu, Inpex meminta agar proyek tidak terdampak perubahan aturan yang berpotensi memengaruhi pembiayaan, termasuk devisa hasil ekspor (DHE), dengan tetap menghormati sanctity of production sharing contract (PSC).

Persyaratan Pembiayaan dan Relaksasi Lokal

Dalam hal pendanaan, Inpex meminta persetujuan Kemenkeu untuk menggunakan sumber pembiayaan tambahan di luar pinjaman bank, serta perubahan skema pendanaan carbon capture storage (CCS) menjadi trustee borrowing scheme (TBS).

Aspek lain yang menjadi perhatian adalah pemenuhan ketersediaan barang dan jasa untuk kegiatan engineering, procurement, construction, and implementation (EPCI). SKK Migas mencatat Inpex membutuhkan relaksasi aturan local content atau tingkat komponen dalam negeri (TKDN). Mereka juga mengajukan relaksasi penggunaan galangan luar negeri karena galangan lokal terbatas, penyederhanaan proses impor, relaksasi asas cabotage, serta pengurangan barang wajib.

Harga gas pipa dalam plan of development (POD) Blok Masela tercatat US$6,8 per MMBtu, sementara harga LNG yang disetujui sebesar 13,5% dikali harga Indonesian Crude Price (ICP). Inpex telah menandatangani head of agreement (HoA) dengan PT Pupuk Indonesia (Persero), PGN, dan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN.

Target Produksi dan Investasi Tambahan

Proyek Abadi Masela diproyeksikan memproduksi 9,5 juta ton LNG per tahun, setara lebih dari 10% impor LNG tahunan Jepang. Selain itu, gas pipa 150 MMSCFD dan 35.000 barel kondensat per hari (BCPD) juga diestimasi tersedia dari proyek ini.

Saat ini, hak partisipasi di Blok Masela dikuasai oleh Inpex Masela Ltd. sebesar 65%. Sebelumnya, 35% sisanya dipegang oleh Shell Upstream Overseas Services Ltd., namun per Juli 2023, porsi tersebut dialihkan ke PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Masela dan Petronas Masela Berhad dengan porsi masing-masing 20% dan 15%.

SKK Migas menargetkan groundbreaking proyek Gas Masela dilakukan akhir Maret 2026 atau sebelum Idulfitri 1447 H. Terdapat tambahan biaya investasi sebesar US$1 miliar atau sekitar Rp16,34 triliun untuk implementasi fasilitas CCS. Sehingga total biaya proyek meningkat dari US$20,94 miliar menjadi US$21,94 miliar.

Dengan berbagai insentif, relaksasi aturan, dan dukungan finansial, proyek Blok Masela berpotensi menjadi proyek strategis yang tidak hanya memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga berkontribusi signifikan pada pasar LNG internasional.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index