Minyak Dunia

Harga Minyak Dunia Naik Tajam Dipicu Ketegangan Geopolitik Trump

Harga Minyak Dunia Naik Tajam Dipicu Ketegangan Geopolitik Trump
Harga Minyak Dunia Naik Tajam Dipicu Ketegangan Geopolitik Trump

JAKARTA - Pasar energi global kembali bergejolak setelah meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah. Harga minyak mentah dunia melonjak tajam pada perdagangan Kamis seiring kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi gangguan pasokan. 

Pemicu utama lonjakan ini adalah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mempertimbangkan opsi serangan militer terhadap Iran, salah satu negara anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak atau OPEC.

Rencana tersebut langsung memicu sentimen negatif di pasar, mengingat Iran memiliki peran penting dalam rantai pasok minyak global. Ketidakpastian mengenai stabilitas kawasan Timur Tengah membuat pelaku pasar bereaksi cepat dengan mendorong harga minyak ke level yang lebih tinggi. 

Kondisi ini mencerminkan betapa sensitifnya pasar energi terhadap isu geopolitik, terutama yang melibatkan negara produsen minyak utama.

Harga Minyak Melonjak Lebih dari Tiga Persen

Harga minyak mentah Amerika Serikat melonjak USD 2,21 atau sekitar 3,5 persen dan ditutup pada level USD 65,42 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah Brent yang menjadi acuan global menguat USD 2,31 atau sekitar 3,38 persen, sehingga berada di level USD 70,71 per barel.

Kenaikan ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak mentah dari Timur Tengah. Wilayah tersebut selama ini dikenal sebagai pusat produksi minyak dunia, sehingga setiap konflik atau ancaman militer berpotensi menimbulkan dampak besar terhadap keseimbangan pasokan dan permintaan global.

Lonjakan harga juga menandakan bahwa pasar menilai risiko geopolitik kali ini cukup serius. Investor dan pelaku industri energi mulai memasukkan skenario terburuk dalam perhitungan mereka, termasuk kemungkinan terganggunya jalur distribusi minyak di kawasan tersebut.

Trump Pertimbangkan Serangan Terarah ke Iran

Sejumlah sumber menyebutkan bahwa Presiden Donald Trump tengah mempertimbangkan serangan terarah terhadap pasukan keamanan dan pimpinan Iran. Langkah ini disebut bertujuan untuk mendorong munculnya gelombang protes anti-pemerintah di negara tersebut.

Dua sumber dari Amerika Serikat mengungkapkan bahwa Trump ingin menciptakan kondisi yang dapat mengarah pada perubahan rezim. Informasi ini semakin memperkuat kekhawatiran pasar bahwa konflik tidak hanya akan bersifat diplomatik, tetapi berpotensi berkembang menjadi konfrontasi militer terbuka.

Sementara itu, pemerintah Republik Islam Iran sebelumnya telah meluncurkan operasi pengetatan keamanan pada awal bulan ini untuk meredam aksi protes. 

Operasi tersebut dilaporkan telah menewaskan ribuan orang, sehingga menambah kompleksitas situasi politik dan keamanan di negara tersebut.

Kondisi internal Iran yang sedang bergejolak membuat risiko gangguan produksi dan distribusi minyak semakin besar. Bagi pasar global, stabilitas Iran menjadi faktor penting karena negara ini merupakan salah satu pemasok minyak mentah dunia.

Pergerakan Militer AS Picu Kekhawatiran Pasar

Pelaku pasar minyak kini memantau secara ketat perkembangan situasi di Timur Tengah, khususnya terkait kemungkinan intervensi militer Amerika Serikat. Setiap langkah strategis yang diambil Washington dinilai dapat berdampak langsung terhadap pasokan minyak mentah global.

Trump dilaporkan telah mengerahkan kelompok tempur kapal induk Abraham Lincoln ke kawasan Timur Tengah. Langkah ini dipandang sebagai sinyal keseriusan Amerika Serikat dalam menghadapi Iran. Selain itu, pada Rabu lalu, Trump juga memperingatkan bahwa waktu bagi Iran untuk mencapai kesepakatan terkait program nuklir semakin sempit.

Presiden AS tersebut bahkan mengancam akan melancarkan serangan yang lebih besar dibandingkan operasi militer pada Juni lalu yang menargetkan fasilitas nuklir Iran. Ancaman ini memperkuat persepsi pasar bahwa eskalasi konflik masih sangat mungkin terjadi.

“Serangan berikutnya akan jauh lebih buruk! Jangan biarkan itu terjadi lagi,” tulis Trump.

Pernyataan tersebut semakin meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas kawasan. Jika konflik benar-benar pecah, gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah dinilai sulit dihindari, baik akibat kerusakan infrastruktur produksi maupun gangguan jalur distribusi.

Dampak Terhadap Pasar Energi Global

Lonjakan harga minyak dunia menunjukkan bahwa faktor geopolitik masih menjadi salah satu penentu utama pergerakan harga energi. Ketidakpastian yang berasal dari konflik internasional kerap memicu volatilitas tinggi di pasar, terutama ketika melibatkan negara produsen minyak utama.

Bagi negara-negara importir minyak, kenaikan harga ini berpotensi meningkatkan beban biaya energi dan tekanan inflasi. Sementara itu, bagi negara produsen, harga yang lebih tinggi bisa memberikan keuntungan jangka pendek, meski tetap dibayangi risiko ketidakstabilan pasokan.

Pelaku pasar kini menantikan langkah lanjutan dari Amerika Serikat dan respons Iran terhadap ancaman tersebut. Setiap perkembangan baru diperkirakan akan langsung tercermin dalam pergerakan harga minyak dunia. 

Dalam situasi seperti ini, pasar energi global berada dalam kondisi waspada tinggi, dengan sentimen yang sangat mudah berubah mengikuti dinamika geopolitik.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index