JAKARTA - Kebiasaan menahan buang air kecil masih sering dilakukan tanpa banyak pertimbangan. Situasi seperti perjalanan jauh, berada di ruang kelas, rapat panjang, atau saat ujian kerap membuat seseorang memilih menunda ke toilet.
Meski terlihat sepele, kebiasaan ini ternyata menyimpan risiko kesehatan yang tidak bisa dianggap ringan, terutama jika dilakukan berulang kali.
Menahan buang air kecil bukan hanya soal rasa tidak nyaman. Praktik ini dapat memengaruhi kesehatan kandung kemih, meningkatkan risiko infeksi, hingga berdampak pada fungsi ginjal.
Dokter spesialis urologi pun mengingatkan bahwa buang air kecil secara teratur merupakan bagian penting dari mekanisme alami tubuh untuk membuang zat sisa dan menjaga keseimbangan organ.
Urolog asal Hyderabad, India, Dr. P. Vamsi Krishna, menegaskan bahwa kebiasaan menunda buang air kecil tidak boleh diremehkan. Menurutnya, menahan urine terlalu lama dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Dampak Menahan Buang Air Kecil terhadap Saluran Kemih
Salah satu risiko paling umum dari kebiasaan menahan buang air kecil adalah meningkatnya kemungkinan infeksi saluran kemih atau urinary tract infection (UTI). Dr. Krishna menjelaskan bahwa urine seharusnya dikeluarkan secara teratur agar bakteri tidak memiliki kesempatan berkembang biak.
"Urine seharusnya dikeluarkan secara teratur. Ketika tertahan berjam-jam di kandung kemih, bakteri memiliki lebih banyak waktu untuk berkembang biak," ujarnya.
Infeksi saluran kemih lebih sering terjadi pada perempuan karena perbedaan anatomi, namun laki-laki juga tetap berisiko mengalaminya. Gejala UTI dapat berupa rasa terbakar saat buang air kecil, nyeri di perut bagian bawah, demam, hingga urine berbau menyengat. Jika tidak ditangani, infeksi ini bisa berkembang menjadi masalah yang lebih serius.
Kebiasaan menahan urine membuat kandung kemih berada dalam kondisi penuh lebih lama dari seharusnya. Hal ini menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan bakteri, sehingga meningkatkan potensi infeksi yang berulang.
Hubungan Menahan Urine dengan Risiko Gangguan Ginjal
Selain berdampak pada saluran kemih, menahan buang air kecil juga dapat memberikan tekanan tambahan pada ginjal. Dr. Krishna menjelaskan bahwa kebiasaan ini berisiko memicu vesicoureteral reflux, yaitu kondisi ketika urine mengalir kembali ke arah ginjal.
"Jika berlangsung dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi menyebabkan kerusakan ginjal," katanya.
Meskipun kasus kerusakan ginjal akibat menahan urine tergolong jarang, risiko tersebut tetap ada, terutama jika kebiasaan ini dilakukan secara rutin dalam waktu lama. Ginjal bekerja menyaring darah dan membuang zat sisa melalui urine. Ketika aliran urine terganggu, ginjal dapat mengalami tekanan yang tidak semestinya.
Dr. Krishna menyarankan agar orang yang sering menahan buang air kecil melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Deteksi dini penting untuk mencegah gangguan ginjal berkembang tanpa disadari.
Peran Asupan Cairan dalam Memperburuk Risiko
Risiko kesehatan akibat menahan buang air kecil akan semakin meningkat jika disertai dengan kebiasaan kurang minum air putih. Dr. Krishna menyoroti bahwa pelajar, terutama saat ujian, sering sengaja mengurangi asupan cairan untuk menghindari bolak-balik ke toilet.
Urine yang lebih pekat akibat kurang minum dapat mengiritasi kandung kemih dan meningkatkan risiko terbentuknya batu ginjal. Kondisi dehidrasi juga membuat ginjal harus bekerja lebih keras untuk menyaring darah.
"Dehidrasi membuat kondisi kandung kemih dan ginjal bekerja lebih berat," jelasnya.
Air putih membantu menjaga volume dan konsistensi urine agar tetap optimal. Dengan cukup minum, tubuh dapat membuang zat sisa secara lebih efektif dan mengurangi risiko iritasi maupun pembentukan kristal yang bisa berkembang menjadi batu ginjal.
Pengaruh Menahan Buang Air Kecil terhadap Konsentrasi dan Mental
Dampak menahan buang air kecil tidak hanya terbatas pada kesehatan fisik. Kondisi kandung kemih yang penuh akan terus mengirim sinyal ke otak, sehingga menimbulkan stres ringan dan gangguan konsentrasi.
Menurut Dr. Krishna, dorongan buang air kecil yang terus diabaikan dapat mengalihkan fokus seseorang dari aktivitas utama yang sedang dilakukan. Hal ini sangat relevan bagi pelajar atau pekerja yang membutuhkan konsentrasi tinggi dalam waktu lama.
"Merespons dorongan buang air kecil justru dapat meningkatkan kewaspadaan dan produktivitas, terutama bagi pelajar saat ujian," kata dr. Krishna.
Dengan memenuhi kebutuhan dasar tubuh, otak dapat bekerja lebih optimal tanpa terganggu sinyal ketidaknyamanan dari kandung kemih. Oleh karena itu, kebiasaan menunda buang air kecil sebaiknya dihindari demi menjaga keseimbangan fisik dan mental.
Menahan buang air kecil mungkin terasa praktis dalam situasi tertentu, tetapi jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan ini dapat membawa dampak kesehatan yang tidak ringan. Mendengarkan sinyal tubuh, menjaga asupan cairan, dan buang air kecil secara teratur merupakan langkah sederhana namun penting untuk melindungi kesehatan kandung kemih dan ginjal.