LPG

Proyek DME Pengganti LPG Dimulai Awal Februari 2026

Proyek DME Pengganti LPG Dimulai Awal Februari 2026
Proyek DME Pengganti LPG Dimulai Awal Februari 2026

JAKARTA - Upaya Indonesia mengurangi ketergantungan energi impor kembali menemukan momentumnya. Salah satu langkah strategis yang segera diwujudkan adalah pembangunan proyek hilirisasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME), yang diproyeksikan menjadi substitusi LPG. 

Proyek ini tidak hanya menjadi simbol transformasi energi nasional, tetapi juga bagian dari strategi besar pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi sekaligus menekan beban devisa negara.

Chief Operating Officer Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia), Dony Oskaria, mengungkapkan bahwa tahapan awal proyek tersebut akan segera dimulai dalam waktu dekat. 

Groundbreaking proyek DME direncanakan berlangsung pada awal Februari 2026, dengan lokasi pembangunan berada di salah satu perusahaan tambang milik negara, PT Bukit Asam Tbk (PTBA). 

Langkah ini menandai keseriusan pemerintah dalam mendorong proyek hilirisasi yang selama ini dinantikan.

Groundbreaking Proyek DME Segera Dimulai

Dony Oskaria menyampaikan bahwa pelaksanaan groundbreaking proyek DME sudah berada pada tahap final persiapan. Ia menyebut, proses awal pembangunan kemungkinan akan dilakukan pada awal Februari atau bahkan akhir Januari 2026, bergantung pada kesiapan teknis di lapangan.

“Awal Februari atau akhir Januari, di Bukit Asam,” ujar Dony.

Pemilihan PT Bukit Asam sebagai lokasi proyek bukan tanpa alasan. Sebagai BUMN yang bergerak di sektor batu bara, PTBA dinilai memiliki kesiapan infrastruktur dan pasokan bahan baku yang memadai untuk mendukung proyek DME. 

Selain itu, keterlibatan BUMN juga sejalan dengan arah kebijakan pemerintah yang ingin menjadikan perusahaan pelat merah sebagai motor utama hilirisasi sumber daya alam.

Proyek DME sendiri telah lama dirancang sebagai bagian dari program strategis nasional. Namun, realisasi proyek ini kerap mengalami penundaan. Dengan dimulainya groundbreaking pada awal 2026, proyek ini diharapkan memasuki fase implementasi nyata setelah melalui berbagai tahapan perencanaan.

Strategi Mengurangi Ketergantungan Impor LPG

Lebih jauh, Dony menjelaskan bahwa pembangunan proyek DME tidak terlepas dari target besar pemerintah untuk mencapai swasembada energi. 

Selama ini, Indonesia masih sangat bergantung pada impor LPG untuk memenuhi kebutuhan energi rumah tangga. Ketergantungan tersebut berdampak langsung pada neraca perdagangan dan stabilitas fiskal negara.

“Karena kita ingin menjadi negara yang memiliki ketahanan di bidang energi. Makanya kita bikin DME. DME kenapa? Untuk menghindari terus-menerus kita mengimpor LPG,” bebernya.

Melalui proyek DME, batu bara akan diolah menjadi produk gas yang dapat digunakan sebagai pengganti LPG. Produk ini dirancang agar kompatibel dengan kebutuhan energi masyarakat, khususnya untuk sektor rumah tangga. Dengan demikian, Indonesia diharapkan mampu mengurangi volume impor LPG secara signifikan dalam jangka menengah hingga panjang.

Selain menekan impor, proyek ini juga dinilai mampu meningkatkan nilai tambah batu bara dalam negeri. Alih-alih hanya diekspor sebagai bahan mentah, batu bara akan diolah menjadi produk energi bernilai lebih tinggi, sejalan dengan semangat hilirisasi yang selama ini digaungkan pemerintah.

Dampak Ekonomi dan Penghematan Devisa Negara

Pemerintah menilai proyek DME memiliki dampak ekonomi yang luas. Salah satu manfaat utama yang disoroti adalah potensi penghematan devisa negara. 

Selama ini, impor LPG menyedot anggaran yang tidak sedikit setiap tahunnya. Dengan adanya DME sebagai substitusi, devisa yang sebelumnya digunakan untuk impor dapat dialihkan untuk kebutuhan lain yang lebih produktif.

Dony menegaskan bahwa pengurangan impor LPG akan memberikan efek berlapis bagi perekonomian nasional. Tidak hanya menekan defisit neraca perdagangan, tetapi juga memperkuat ketahanan fiskal negara dalam jangka panjang.

“Dampaknya apa? Yang pertama itu adalah tadi, bahwa kita, devisa kita tidak keluar karena mengimport LPG,” tuturnya.

Di sisi lain, proyek DME juga dinilai mampu mendorong penyerapan tenaga kerja serta pertumbuhan ekonomi di daerah sekitar lokasi proyek. Aktivitas industri hilirisasi akan menciptakan rantai nilai baru, mulai dari sektor pertambangan, pengolahan, hingga distribusi energi.

Subsidi Energi Lebih Tepat Sasaran

Selain aspek devisa, proyek DME juga dikaitkan dengan upaya pemerintah dalam menata ulang skema subsidi energi. Selama ini, subsidi LPG dinilai kerap tidak tepat sasaran dan membebani anggaran negara. Dengan adanya alternatif energi berbasis DME, pemerintah berharap beban subsidi dapat ditekan secara bertahap.

“Yang kedua adalah tadi, subsidi kita juga bisa berkurang. Sehingga uangnya bisa kita pakai juga lebih bermanfaat,” lanjut Dony.

Pengurangan beban subsidi ini membuka ruang fiskal bagi pemerintah untuk mengalokasikan anggaran ke sektor lain yang lebih strategis, seperti pendidikan, kesehatan, dan pembangunan infrastruktur. 

Dengan demikian, proyek DME tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga berkontribusi pada pembangunan nasional secara lebih luas.

Ke depan, pemerintah berharap proyek DME dapat menjadi contoh keberhasilan hilirisasi batu bara yang berkelanjutan. Jika berjalan sesuai rencana, proyek ini berpotensi menjadi tonggak penting dalam transformasi energi Indonesia, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi impor yang selama ini menjadi tantangan utama.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index