JAKARTA - Pada tahun 2025, Bank Indonesia (BI) melaporkan telah melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) atau surat utang pemerintah dengan total mencapai Rp332,1 triliun.
Langkah ini merupakan bagian dari kebijakan moneter yang diambil oleh BI untuk memastikan ketersediaan likuiditas yang cukup di pasar domestik, sambil mendukung pembiayaan program prioritas pemerintah.
Pembelian SBN ini dilakukan dengan mekanisme yang terkoordinasi dengan kebijakan fiskal pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, khususnya dalam sektor-sektor yang berorientasi pada kesejahteraan rakyat.
Dalam pernyataannya, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menjelaskan bahwa sebagian besar dari pembelian SBN, yakni sekitar Rp246,6 triliun, dilakukan dengan cara debt switching.
Debt switching adalah mekanisme pemindahan utang jangka pendek atau menengah yang dimiliki pemerintah menjadi utang jangka panjang, yang tujuannya untuk memperpanjang tenor utang dan mengurangi risiko pembiayaan dalam jangka pendek.
Sinergi Antara Kebijakan Moneter dan Fiskal
Pembelian SBN oleh BI pada 2025 tidak hanya bertujuan untuk mengelola likuiditas pasar, tetapi juga mendukung kebijakan fiskal pemerintah.
Sebagian besar dari SBN yang dibeli digunakan untuk membiayai program-program prioritas yang berfokus pada kepentingan rakyat, seperti pembangunan perumahan rakyat dan pendanaan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Program-program ini dirancang untuk memberikan manfaat langsung kepada masyarakat, sekaligus memperkuat sektor ekonomi kerakyatan.
“Sebagian besar pembelian SBN ini digunakan untuk mendanai program-program ekonomi kerakyatan, seperti perumahan rakyat dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP),” ujar Perry Warjiyo.
Menurut Perry, pembelian SBN dengan cara ini adalah bentuk nyata dari sinergi yang erat antara kebijakan moneter Bank Indonesia dan kebijakan fiskal pemerintah, yang bertujuan untuk menciptakan stabilitas makroekonomi yang lebih baik dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Pembelian SBN Berlanjut di Tahun 2026
Selain itu, Perry juga mengungkapkan bahwa pembelian SBN ini tidak hanya berhenti pada tahun 2025, tetapi akan terus berlanjut hingga awal tahun 2026. Sebagai contoh, per 23 Januari 2026, BI telah melakukan pembelian SBN senilai Rp23,7 triliun.
Langkah ini menggambarkan komitmen Bank Indonesia untuk terus mendukung kelancaran pembiayaan pemerintah sekaligus menjaga stabilitas sistem keuangan dan likuiditas domestik.
Menurut Perry, meskipun pembelian SBN dilakukan dalam jumlah besar, mekanismenya tetap dilakukan sesuai dengan ketentuan pasar dan kebijakan moneter yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia.
Ini bertujuan untuk menjaga keseimbangan antara likuiditas di pasar dan tetap mendukung program pemerintah yang memiliki dampak positif bagi masyarakat.
Dampak terhadap Likuiditas dan Ekonomi Domestik
Langkah pembelian SBN yang dilakukan Bank Indonesia ini juga berimbas pada posisi Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), yang tercatat mengalami penurunan dari Rp919,9 triliun pada awal tahun 2025 menjadi Rp730,9 triliun pada akhir tahun 2025.
Penurunan ini mencerminkan ekspansi likuiditas yang dilakukan oleh BI sebagai bagian dari kebijakan moneter yang lebih longgar, yang bertujuan untuk menstabilkan perekonomian domestik.
Perry menjelaskan bahwa penurunan SRBI ini merupakan bagian dari kebijakan BI untuk mendukung sektor riil, memastikan ketersediaan dana di pasar, serta memperkuat daya beli masyarakat.
Di satu sisi, penurunan SRBI juga menandakan bahwa Bank Indonesia telah berhasil mengalihkan sebagian likuiditasnya untuk mendukung program-program pemerintah yang lebih produktif dan memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan rakyat.
Koordinasi Kebijakan yang Semakin Erat
Perry juga menegaskan pentingnya koordinasi yang erat antara kebijakan moneter dan kebijakan fiskal, yang selama ini telah berjalan dengan baik. Pembelian SBN ini merupakan bukti nyata dari sinergi tersebut, di mana Bank Indonesia dan pemerintah bekerja sama untuk mencapai tujuan makroekonomi yang lebih baik.
Kebijakan ini memastikan bahwa likuiditas tetap terjaga di pasar, sementara pada saat yang sama, program-program pemerintah yang membutuhkan pendanaan dapat terlaksana dengan lancar.
"Pembelian SBN ini dilakukan sesuai dengan mekanisme pasar dan konsisten dengan program moneter yang ditempuh Bank Indonesia," ujar Perry.
Dengan kebijakan ini, Bank Indonesia berusaha untuk menjaga kestabilan nilai tukar rupiah dan inflasi yang terkontrol, sekaligus memberikan dukungan yang maksimal terhadap program-program prioritas pemerintah yang bermanfaat bagi masyarakat.
Keterpaduan Kebijakan yang Menjamin Pembangunan Berkelanjutan
Secara keseluruhan, langkah pembelian SBN yang dilakukan oleh Bank Indonesia sepanjang 2025 ini merupakan bagian dari strategi besar untuk mendukung pembangunan berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Kebijakan ini menunjukkan betapa pentingnya sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal dalam mencapai stabilitas ekonomi dan mempercepat pertumbuhan sektor-sektor yang vital bagi kemajuan bangsa.
Dengan koordinasi yang baik antara BI dan pemerintah, diharapkan perekonomian Indonesia dapat tetap stabil, tumbuh secara inklusif, dan mampu menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.