BBM

Kuota Solar dan Pertalite Turun Signifikan, Apa Dampaknya?

Kuota Solar dan Pertalite Turun Signifikan, Apa Dampaknya?
Kuota Solar dan Pertalite Turun Signifikan, Apa Dampaknya?

JAKARTA - Pada tahun 2025, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mencatat penurunan dalam kuota penyaluran dua jenis bahan bakar minyak (BBM) yang sering digunakan oleh masyarakat, yaitu Pertalite dan Solar. 

Meski kuota yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tidak tercapai sepenuhnya, BPH Migas berhasil mengelola distribusi BBM dengan baik dan mencapai penghematan yang cukup besar.

Penyaluran Pertalite dan Solar Lebih Rendah dari Kuota

Berdasarkan data dari BPH Migas, penyaluran Pertalite pada tahun 2025 tercatat hanya mencapai 28.063.429 kiloliter atau sekitar 89,86% dari total kuota yang telah ditetapkan, yaitu sebesar 31.230.017 kiloliter. 

Meskipun tidak tercapai secara penuh, angka ini menunjukkan adanya pengelolaan yang lebih efisien, mengingat jumlah penyaluran yang lebih rendah dari kuota yang ada.

Sementara itu, untuk jenis BBM solar, meski kuotanya tercatat lebih tinggi, penyaluran solar tercatat sebesar 18.411.366 kiloliter atau sekitar 97,4% dari kuota yang ada, yaitu 18.885.000 kiloliter. 

Walaupun penyaluran solar hampir memenuhi kuota yang ditetapkan, angka ini masih menunjukkan adanya penurunan dibandingkan dengan angka yang diperkirakan sebelumnya.

Kendati demikian, penurunan kuota penyaluran ini tetap dapat dilihat sebagai upaya efisiensi dalam distribusi, yang berujung pada penghematan anggaran negara.

Penghematan Anggaran Negara Terkait Penyaluran BBM

Kepala BPH Migas, Wahyudi Anas, menjelaskan bahwa penghematan yang diperoleh dari penyaluran BBM jenis tertentu pada tahun 2025 cukup signifikan. 

Total penghematan yang tercatat mencapai Rp 4,982 triliun, yang terdiri dari beberapa jenis BBM subsidi. Penghematan ini didapatkan berkat distribusi yang lebih terkontrol dan tepat sasaran, meski penyaluran tidak sepenuhnya sesuai dengan kuota yang ditetapkan dalam APBN.

Anas merinci bahwa penghematan terbesar berasal dari penyaluran solar, yang tercatat mencapai 473.634 kiloliter, setara dengan Rp 2,11 triliun. Kemudian, untuk minyak tanah, penghematan yang tercatat mencapai 17.056 kiloliter, dengan nilai sekitar Rp 0,122 triliun. 

Sementara itu, Pertalite juga mengalami penghematan yang cukup besar, yaitu sebesar 3.166.558 kiloliter, yang setara dengan penghematan sebesar Rp 2,75 triliun.

Penghematan ini tentu menjadi kabar baik bagi pemerintah, yang dapat memanfaatkan dana tersebut untuk program-program lain yang lebih mendesak atau untuk mendukung kompensasi subsidi BBM yang lebih terarah.

Stabilitas Distribusi BBM Subsidi di Seluruh Indonesia

Meski terjadi penurunan kuota penyaluran, distribusi BBM subsidi pada tahun 2025 tetap berjalan lancar di seluruh wilayah Indonesia. Wahyudi Anas menegaskan bahwa BPH Migas telah mengawal distribusi dengan baik sepanjang tahun. 

Dalam rapat dengan Komisi XII DPR RI, Anas menyatakan bahwa distribusi BBM selama Januari hingga Desember 2025 berjalan tanpa hambatan berarti, dan tidak ada kelangkaan atau kendala dalam penyediaan BBM di pasaran.

Pengelolaan distribusi yang lancar ini juga diiringi dengan upaya pengendalian agar penghematan yang dihasilkan tidak merugikan konsumen. 

Dengan adanya penghematan, pemerintah masih dapat mempertahankan subsidi BBM kepada masyarakat tanpa mengurangi kualitas pelayanan distribusi.

Efisiensi Penggunaan BBM Subsidi

Dengan pencapaian penghematan yang signifikan, pemerintah berupaya lebih efisien dalam menggunakan anggaran negara, khususnya untuk subsidi BBM. 

Wahyudi Anas menuturkan bahwa penghematan yang terjadi pada penyaluran Solar, Pertalite, dan minyak tanah menjadi indikasi bahwa distribusi BBM subsidi dapat dilakukan dengan lebih efisien, tanpa menurunkan kualitas pelayanan kepada konsumen.

Pada tahun 2025, penghematan ini juga menjadi bagian dari upaya untuk meminimalkan pemborosan dalam penyaluran BBM subsidi, sehingga negara dapat lebih efektif dalam mengelola keuangan negara. 

Penghematan ini juga merupakan salah satu langkah untuk menjaga agar subsidi BBM dapat berjalan secara berkelanjutan, meskipun kuota yang ada tidak selalu tercapai.

Prospek Pengelolaan BBM Subsidi di Masa Depan

Melihat hasil positif yang dicapai pada tahun 2025, BPH Migas berkomitmen untuk terus meningkatkan efisiensi dalam penyaluran BBM subsidi di masa depan. 

Penghematan yang diperoleh dapat digunakan untuk memperbaiki infrastruktur distribusi dan memperkuat pengawasan terhadap penyaluran BBM agar lebih tepat sasaran.

Ke depannya, pemerintah akan terus memantau distribusi dan penyaluran BBM, terutama jenis solar dan Pertalite, yang menjadi komoditas utama bagi masyarakat. 

Dengan pengelolaan yang lebih baik dan efisien, diharapkan penghematan dapat terus terjaga, serta distribusi BBM subsidi dapat tetap berjalan lancar dan merata di seluruh wilayah Indonesia.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index