JAKARTA - Indonesia tengah mempersiapkan langkah besar dalam peta ekonomi dunia dengan tujuan ambisius untuk menjadi raksasa investasi global pada 2028.
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) menjadi instrumen utama dalam mewujudkan visi ini, yang tidak hanya mengarah pada perbaikan BUMN, tetapi juga sebagai upaya strategis untuk memperkuat ekonomi nasional.
Dengan total konsolidasi aset yang diperkirakan mencapai 1 triliun dolar AS, Indonesia kini siap menantang posisi negara-negara besar dalam mengelola dana abadi global, termasuk Singapura yang dikenal dengan Temasek-nya.
Pencapaian ini bukanlah hal yang instan, namun dengan langkah-langkah strategis yang melibatkan pemanfaatan aset negara secara maksimal, Indonesia berpotensi menjadi salah satu pengelola dana terbesar di dunia.
Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Anggito Abimanyu, membahas lebih dalam soal filosofi dan tantangan di balik pembentukan Danantara dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Nagara Institute dan Akbar Faizal Uncensored di Bandung, Kamis, 22 Januari 2026.
Anggito menjelaskan bahwa nama "Danantara" diberikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto, yang memiliki arti "Energi Masa Depan Indonesia," dan menggambarkan tekad untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi dunia.
Konsolidasi Aset BUMN untuk Menguatkan Ekonomi Indonesia
BPI Danantara dirancang untuk mengonsolidasikan seluruh kekuatan ekonomi Indonesia melalui pengelolaan aset BUMN yang tersebar. Dengan estimasi nilai aset yang mencapai 1 triliun dolar AS, Indonesia kini telah berhasil menembus posisi lima besar pengelola dana abadi dunia.
Pencapaian ini bahkan mengungguli Temasek, lembaga investasi milik Singapura, yang sebelumnya menjadi benchmark untuk kesuksesan investasi negara berkembang.
"Nama Danantara bukan hanya tentang menyehatkan BUMN, tetapi tentang menyatukan seluruh aset dan kekuatan ekonomi negara untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi kita," ungkap Anggito.
Dalam hal ini, Danantara diharapkan bisa mendongkrak investasi nasional yang saat ini baru mencapai 30 persen dari PDB, dengan target ambisius untuk meningkatkan rasio investasi tersebut hingga mencapai 40 persen pada 2028.
Mengungguli Raksasa Dunia dalam Investasi
Di balik ambisi besar tersebut, Indonesia juga berusaha untuk menempatkan diri sebagai pesaing serius bagi negara-negara dengan sovereign wealth fund (SWF) terbesar di dunia, seperti Norwegia, China, dan Uni Emirat Arab. Indonesia berencana untuk melakukan "leveraging" dari konsolidasi aset BUMN yang sudah ada, dengan tujuan menarik investasi global yang akan digunakan untuk mendanai berbagai proyek strategis nasional.
Salah satu faktor penting yang membedakan Danantara dengan SWF konvensional adalah mekanisme kerja yang lebih dinamis, di mana negara tidak hanya mengelola surplus komoditas, tetapi juga mengoptimalkan aset-aset nasional untuk mendatangkan dana baru.
Ambisi ini tentunya tidak mudah tercapai. Anggito menyampaikan bahwa meskipun secara konsolidasi Indonesia sudah berhasil melampaui Temasek, dampaknya tidak akan langsung terlihat.
Pengelolaan Danantara sebagai lembaga besar ini memerlukan waktu dan strategi yang matang, dengan hasil yang diharapkan mulai dapat dirasakan pada 2028. "Danantara adalah raksasa yang baru dibangunkan, dan hasil signifikan baru akan tampak saat proyek-proyek ini berjalan mulai 2028," jelas Anggito.
Mengutamakan Kedaulatan Ekonomi dalam Kerja Sama Investasi
Salah satu elemen kunci yang ditegaskan dalam pembahasan ini adalah pentingnya kedaulatan ekonomi. Dalam setiap proyek investasi yang melibatkan Danantara, Indonesia diharuskan untuk mempertahankan kepemilikan mayoritas sebesar 51 persen.
Kebijakan ini bertujuan agar Indonesia tetap memiliki kendali penuh atas proyek-proyek yang berjalan, sekaligus memastikan bahwa dampak dari investasi tersebut dapat dirasakan hingga ke daerah-daerah.
"Kedaulatan ekonomi adalah hal yang sangat penting. Dalam setiap investasi, kita wajib memastikan bahwa Indonesia tetap menjadi pihak yang mengendalikan 51 persen dari proyek tersebut," tegas Anggito.
Kebijakan ini juga sejalan dengan arahan Presiden Prabowo, yang ingin agar Indonesia memiliki posisi yang kuat dalam berbagai sektor ekonomi, termasuk di dalam kerja sama investasi global.
Membangun Tata Kelola yang Kuat untuk Masa Depan
Namun demikian, Anggito juga memberikan catatan penting mengenai penguatan tata kelola dan kualitas sumber daya manusia dalam pengelolaan Danantara.
Sebagai lembaga yang baru lahir, Danantara harus mengembangkan jaringan yang luas dan sistem pengelolaan yang teliti untuk memastikan bahwa proyek-proyek yang dijalankan sesuai dengan tujuan jangka panjang.
"Ini adalah titik terang dalam ekonomi kita, sebuah investment-led growth. Namun kita harus bersabar karena ini adalah terowongan panjang yang membutuhkan ketelitian dalam pengelolaannya," tambah Anggito.
Di sisi lain, pemerintah juga berfokus pada pembangunan infrastruktur dan peningkatan kualitas SDM untuk mendukung pertumbuhan Danantara dan memaksimalkan potensi investasi yang masuk. Dengan kerja sama yang erat antara pemerintah, BUMN, dan sektor swasta, Danantara diharapkan bisa menjadi titik pendorong bagi ekonomi Indonesia menuju masa depan yang lebih baik dan berkelanjutan.
Masa Depan Danantara dan Tantangan yang Harus Dihadapi
Sebagai "raksasa yang baru terbangun," Danantara memang masih menghadapi berbagai tantangan dalam perjalanannya. Namun, dengan dukungan penuh dari pemerintah dan tekad untuk memajukan ekonomi Indonesia, lembaga ini berpotensi besar untuk mengubah peta ekonomi global.
Saat portofolio proyek-proyek besar mulai ditawarkan kepada investor global pada tahun-tahun mendatang, Indonesia bisa melihat dampak positif dari konsolidasi aset BUMN dan strategi leveraging yang diterapkan oleh Danantara.
"Pada akhirnya, kami berharap Indonesia bisa menjadi salah satu pemain besar dalam peta investasi global, dan Danantara adalah alat yang akan mewujudkan hal itu," tutup Anggito.