KESEHATAN

Perlukah Ganti Sikat Gigi Setelah Sakit Ini Jawabannya!

Perlukah Ganti Sikat Gigi Setelah Sakit Ini Jawabannya!
Perlukah Ganti Sikat Gigi Setelah Sakit Ini Jawabannya!

JAKARTA - Banyak orang langsung mengganti sikat gigi setelah sembuh dari flu, radang tenggorokan, atau sakit lainnya. Kekhawatiran akan kuman yang menempel sering kali membuat kebiasaan ini dianggap wajib demi mencegah sakit berulang.

Padahal, belum tentu langkah tersebut memang diperlukan. Meski sikat gigi bersentuhan langsung dengan mulut yang sedang terinfeksi, risiko penularan ulang ternyata tidak sebesar yang dibayangkan.

Untuk memahami apakah mengganti sikat gigi setelah sakit benar-benar penting, perlu melihat bagaimana kuman bekerja di dalam tubuh, serta apa kata para ahli kesehatan gigi mengenai kebiasaan ini.

Kuman di Sikat Gigi Tidak Selalu Berbahaya

Sikat gigi memang dapat menjadi tempat menempelnya kuman dari mulut, terutama saat seseorang sedang sakit. Namun, keberadaan kuman ini tidak otomatis membuat Anda kembali jatuh sakit setelah sembuh.

Secara umum, sikat gigi dianjurkan untuk diganti setiap tiga hingga empat bulan sekali atau ketika kondisinya sudah rusak dan tidak nyaman digunakan. Anjuran ini lebih berkaitan dengan efektivitas pembersihan, bukan semata-mata soal kuman.

Meski sikat gigi mungkin mengandung mikroorganisme, kemungkinan kuman tersebut menularkan penyakit kembali sebenarnya sangat kecil. Setelah tubuh sembuh, sistem imun sudah memiliki pertahanan terhadap virus atau bakteri yang sama.

Dengan kata lain, menggunakan sikat gigi yang sama setelah sakit tidak serta-merta meningkatkan risiko infeksi ulang, selama sikat tersebut digunakan secara pribadi dan disimpan dengan benar.

Jawaban Ahli Soal Ganti Sikat Setelah Sakit

Pertanyaan apakah sikat gigi harus diganti setelah sakit sering muncul, terutama setelah mengalami infeksi seperti radang tenggorokan atau flu berat. Jawabannya, menurut para ahli, adalah tidak harus.

Dilansir dari laman Verywellhealth, sebuah studi pada 2013 menunjukkan bahwa sikat gigi yang digunakan anak-anak dengan radang tenggorokan tidak menumbuhkan bakteri lebih banyak dibandingkan sikat gigi lainnya.

Temuan ini memperkuat pandangan bahwa mengganti sikat gigi setelah sakit bukanlah keharusan medis. Saat sakit, tubuh membentuk antibodi yang membantu melawan kuman dan mencegah infeksi ulang.

Itulah sebabnya virus pilek atau flu yang mungkin tertinggal di sikat gigi tidak akan menyebabkan Anda sakit lagi setelah pulih sepenuhnya.

Risiko Penularan ke Orang Lain Perlu Diwaspadai

Meski tidak berbahaya bagi diri sendiri, sikat gigi tetap berpotensi menularkan kuman kepada orang lain. Risiko ini meningkat jika beberapa sikat gigi disimpan dalam satu wadah yang sama.

Jika Anda berbagi tempat sikat gigi dengan anggota keluarga saat sedang sakit, sebaiknya semua sikat gigi dalam wadah tersebut diganti. Dalam kondisi ini, kuman dapat berpindah dan menginfeksi orang lain.

American Academy of Dermatology Association juga menyarankan untuk membuang sikat gigi, pelembap bibir, serta produk perawatan mulut lain yang berada dalam satu wadah dengan milik orang lain.

Langkah ini bertujuan mencegah penyebaran kuman antarindividu, meski risiko infeksi ulang pada diri sendiri tergolong rendah.

Waktu Tepat Mengganti Sikat Gigi Anda

Selain faktor sakit, ada waktu-waktu tertentu yang memang mengharuskan sikat gigi diganti. Cleveland Clinic dan American Dental Association menyarankan penggantian sikat gigi setiap tiga hingga empat bulan.

Sikat gigi yang digunakan terlalu lama dapat menjadi sarang bakteri dan kehilangan efektivitas dalam membersihkan gigi dan gusi. Bulu sikat yang melebar atau rusak juga tidak lagi optimal menjangkau sela-sela gigi.

Penggantian juga sebaiknya dilakukan lebih cepat jika sikat gigi terjatuh ke toilet, digigit hewan peliharaan, atau dibiarkan lama di dalam tas tanpa penutup.

Sikat gigi yang sudah rusak tidak hanya kurang efektif, tetapi juga berpotensi melukai gusi dan jaringan mulut. Oleh karena itu, kondisi fisik sikat gigi tetap menjadi indikator utama kapan harus menggantinya.

Pada akhirnya, kuman di mulut memang bisa berpindah ke sikat gigi, namun Anda masih bisa menggunakannya setelah sembuh tanpa risiko besar bagi diri sendiri.

Perhatian khusus justru perlu diberikan pada kebersihan penyimpanan dan potensi penularan ke orang lain. Dengan perawatan dan kebiasaan yang tepat, sikat gigi tetap aman digunakan sesuai anjuran waktunya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index