Max Alexander Desainer Termuda Bersinar di Paris Fashion Week

Kamis, 12 Maret 2026 | 09:00:35 WIB
Max Alexander Desainer Termuda Bersinar di Paris Fashion Week

JAKARTA - Perjalanan menuju panggung besar dunia mode biasanya membutuhkan waktu panjang dan pengalaman bertahun-tahun. Namun kisah berbeda datang dari Max Alexander. 

Di usia yang baru 10 tahun, ia sudah mencatatkan namanya dalam sejarah industri fashion dengan menampilkan koleksi di Paris Fashion Week. Keberhasilannya menarik perhatian banyak pihak karena jarang sekali seorang anak seusianya mampu menembus panggung mode bergengsi tersebut.

Max yang masih duduk di bangku kelas empat sebenarnya sudah lama tertarik dengan dunia desain. Ketertarikannya dimulai sejak usia sangat muda, bahkan ketika kebanyakan anak masih bermain dan mengeksplorasi hobi lainnya. 

Ia mulai belajar menjahit serta merancang busana sejak usia empat tahun. Dari kegiatan sederhana itu, bakatnya berkembang hingga akhirnya membawanya ke panggung mode internasional.

Pada 3 Maret 2026 lalu, Max mempresentasikan koleksi Max Alexander Women's Ready-to-Wear Fall/Winter 2026-2027 di Palais Garnier, Paris. Acara tersebut berlangsung hanya beberapa hari setelah ulang tahunnya yang ke-10. 

Momen ini membuatnya tercatat sebagai desainer termuda yang pernah menampilkan koleksi di ajang Paris Fashion Week, sebagaimana dilaporkan sejumlah media termasuk CBS LA dan Vogue France.

Koleksi yang ditampilkan berjumlah 15 tampilan. Setiap busana dirancang dengan pendekatan yang menekankan konsep sustainable fashion atau mode berkelanjutan. Tema yang diangkat pun memiliki sentuhan alam, dengan bunga sebagai inspirasi utama.

Perjalanan Awal Menjadi Desainer

Minat Max terhadap dunia fashion muncul jauh sebelum ia dikenal luas oleh publik. Ketika masih sangat kecil, ia sudah tertarik melihat bagaimana pakaian dibuat dan bagaimana bahan dapat diubah menjadi busana yang menarik.

Sejak usia empat tahun, Max mulai belajar menjahit serta mencoba membuat desain sendiri. Kegiatan tersebut kemudian berkembang menjadi latihan yang semakin serius seiring berjalannya waktu. Ia tidak hanya bereksperimen dengan bentuk dan warna, tetapi juga mempelajari bagaimana bahan dapat digunakan secara kreatif.

Pengalaman yang terus bertambah membuatnya semakin percaya diri untuk memperlihatkan hasil karyanya kepada publik. Bakatnya yang berkembang pesat membuat banyak orang mulai memperhatikan kiprahnya di dunia fashion, meskipun usianya masih sangat muda.

Keseriusan tersebut akhirnya membawanya menuju berbagai kesempatan besar, termasuk tampil di panggung mode internasional.

Koleksi Terinspirasi Bunga dan Ramah Lingkungan

Koleksi yang dipresentasikan Max di Paris Fashion Week tidak hanya menarik dari sisi desain, tetapi juga dari konsep yang diusung. Ia memilih menghadirkan tema yang menonjolkan keberlanjutan dalam dunia fashion.

"Sekitar 90 persen koleksi ini dibuat dari bahan yang berkelanjutan dan terinspirasi dari bunga," kata Alexander kepada PEOPLE.

Konsep tersebut tercermin dari pemilihan bahan serta pendekatan desain yang berusaha memanfaatkan material yang sudah ada. Dengan inspirasi dari bunga, setiap busana memiliki sentuhan bentuk, tekstur, maupun warna yang mengingatkan pada elemen alam.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa bahkan di usia yang sangat muda, Max sudah memiliki kesadaran terhadap isu lingkungan dalam industri fashion. Ia mencoba menunjukkan bahwa kreativitas dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga keberlanjutan.

Material Unik dan Proses Kreatif Panjang

Untuk menciptakan koleksi tersebut, Max tidak hanya mengandalkan bahan baru. Ia juga memanfaatkan berbagai material yang telah ada sebelumnya dan mengolahnya kembali menjadi busana yang berbeda.

"Aku menggunakan deadstock, bahan surplus, tas daur ulang, dan kain yang biodegradable," ujarnya.

Penggunaan material tersebut menjadi bagian dari upaya untuk mengurangi limbah dalam industri fashion. Selain itu, beberapa busana juga dibuat dari bahan yang cukup unik dan tidak biasa digunakan sebagai pakaian.

Salah satu contohnya adalah gaun korset yang dibuat dari parasut militer Prancis. Selain itu, ada pula saree vintage yang didesain ulang sehingga berubah menjadi busana baru dengan tampilan berbeda.

Proses pembuatan koleksi tersebut juga memerlukan waktu yang cukup panjang.

"Seluruh koleksi ready-to-wear ini membutuhkan waktu sekitar setengah tahun untuk diselesaikan," katanya.

Lamanya proses tersebut menunjukkan bahwa setiap desain tidak dibuat secara instan. Setiap detail dikerjakan dengan perencanaan yang matang agar menghasilkan koleksi yang siap ditampilkan di panggung fashion internasional.

Mimpi Besar di Panggung Fashion Dunia

Sebelum tampil di Paris Fashion Week, Max sebenarnya sudah pernah menarik perhatian industri fashion. Ia melakukan debut di New York Fashion Week pada 2024 saat usianya masih delapan tahun.

Pengalaman tersebut menjadi langkah awal yang membuka jalan bagi kesempatan berikutnya. Dari sana, namanya mulai dikenal dan karyanya semakin diperhatikan oleh banyak pihak dalam dunia fashion.

Bagi Max, melihat desain buatannya berjalan di runway Paris Fashion Week merupakan pengalaman yang sangat berharga. Momen tersebut tidak hanya menjadi pencapaian pribadi, tetapi juga kesempatan untuk menyampaikan pesan yang lebih luas.

"Aku senang bisa menunjukkan desainku kepada dunia. Dan mungkin bisa mendorong orang-orang untuk berpikir tentang menggunakan kembali barang, serta tidak terlalu banyak membeli fast fashion," tuturnya.

Melalui koleksi yang ia tampilkan, Max berharap dapat menginspirasi orang lain untuk lebih peduli terhadap keberlanjutan. Ia ingin menunjukkan bahwa kreativitas dalam fashion dapat berjalan seiring dengan kesadaran terhadap lingkungan.

Keberhasilan Max Alexander di usia yang sangat muda menjadi bukti bahwa bakat dan dedikasi dapat membawa seseorang mencapai panggung besar, bahkan ketika perjalanan tersebut baru saja dimulai.

Terkini