Pertamina NRE Fokus Kembangkan PLTN Off-Grid untuk Industri

Jumat, 27 Februari 2026 | 13:55:15 WIB
Pertamina NRE Fokus Kembangkan PLTN Off-Grid untuk Industri

JAKARTA - PT Pertamina New & Renewable Energy (NRE) tengah merancang langkah strategis untuk mengembangkan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) guna memenuhi kebutuhan energi sektor tambang dan fasilitas pemurnian (smelter) yang terisolasi dari jaringan listrik nasional. 

Alih-alih masuk ke pasar kelistrikan terhubung jaringan atau on-grid, Pertamina NRE melihat peluang besar pada pasar off-grid, yang banyak dibutuhkan oleh industri yang beroperasi di area terpencil dan jauh dari akses energi terpusat.

Fokus Pada Pasar Off-Grid Sektor Industri

Direktur Utama Pertamina NRE, John Anis, menjelaskan bahwa perusahaannya berfokus pada pengembangan PLTN untuk pasar off-grid, khususnya bagi sektor tambang dan smelter yang sering menghadapi tantangan terkait pasokan energi yang stabil. 

Menurutnya, pasar on-grid yang terhubung dengan sistem kelistrikan PLN tidak menjadi sasaran perusahaan, karena pasar tersebut sepenuhnya menjadi tanggung jawab PT PLN (Persero). 

"Kami tidak membidik pasar on-grid, karena itu sudah merupakan domain PLN. Sebaliknya, kami melihat ada ceruk pasar yang sangat potensial di sektor off-grid," ungkap John.

PLTN off-grid ini diharapkan bisa memberikan solusi energi yang lebih stabil dan efisien bagi sektor-sektor industri yang membutuhkan pasokan listrik jangka panjang. 

Seiring dengan berjalannya waktu, pengembangan pembangkit ini dipandang memiliki potensi untuk mengurangi ketergantungan pada pembangkit berbahan bakar fosil seperti diesel atau batu bara, yang tidak hanya mahal tetapi juga berdampak buruk bagi lingkungan.

Konsep Small Modular Reactor Menjadi Pilihan Utama

Salah satu konsep yang dipertimbangkan oleh Pertamina NRE adalah penggunaan teknologi small modular reactor (SMR). Teknologi ini sangat menarik bagi industri, mengingat kapasitasnya yang lebih kecil dan fleksibel dibandingkan reaktor nuklir besar yang biasanya digunakan untuk pembangkit listrik on-grid. 

Keunggulan SMR adalah tidak hanya kapasitasnya yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan industri, tetapi juga biaya pembangunan dan operasionalnya yang lebih terjangkau secara teknis maupun ekonomis.

John Anis menegaskan bahwa SMR merupakan solusi yang menarik untuk memenuhi kebutuhan energi yang lebih terjangkau di lokasi-lokasi terpencil, terutama untuk sektor-sektor industri yang memerlukan pasokan energi dalam jumlah besar. 

"SMR sangat cocok karena ukurannya yang lebih kecil dan lebih terjangkau. Teknologi ini juga memberikan keuntungan dari sisi ekonomi jangka panjang," ujarnya. 

Namun, John juga mengingatkan bahwa meskipun SMR menawarkan banyak potensi, tantangan utamanya adalah pada kematangan teknologi tersebut yang hingga saat ini masih dalam tahap pengembangan dan uji coba di banyak negara.

Keuntungan Ekonomi Jangka Panjang dari PLTN

Salah satu daya tarik utama dari pengembangan PLTN adalah sifatnya yang dapat memberikan keuntungan ekonomi dalam jangka panjang. Meskipun proyek ini membutuhkan investasi awal yang cukup besar, namun dengan usia operasi yang panjang, biaya produksi listrik dapat stabil dan bahkan lebih terjangkau seiring berjalannya waktu. 

"Pada dasarnya, proyek PLTN ini menawarkan investasi yang bersifat jangka panjang. Dengan umur operasi yang panjang, biaya produksi listrik bisa sangat stabil dan dapat terkompensasi dengan baik dalam jangka waktu yang lebih lama," kata John.

Melalui perspektif ekonomi, PLTN juga menawarkan potensi penghematan biaya energi dalam jangka panjang. Hal ini sangat penting bagi sektor industri yang bergantung pada pasokan energi yang andal dan terjangkau, seperti tambang dan smelter. 

Proyek-proyek semacam ini diharapkan dapat memberikan efisiensi biaya energi yang lebih tinggi dibandingkan dengan penggunaan bahan bakar fosil yang memiliki biaya operasional yang lebih tinggi dan sangat bergantung pada fluktuasi harga bahan bakar.

Tantangan Regulasi dan Penerimaan Masyarakat terhadap PLTN

Namun, meskipun prospek pengembangan PLTN off-grid cukup menjanjikan, John mengungkapkan bahwa terdapat sejumlah tantangan yang harus dihadapi dalam merealisasikan proyek ini di Indonesia. 

Tantangan pertama adalah ketidakjelasan regulasi yang hingga kini belum sepenuhnya disusun oleh pemerintah. Tanpa regulasi yang jelas dan terstruktur, pengembangan proyek PLTN akan mengalami hambatan besar.

"Tantangan besar lainnya adalah penerimaan publik terhadap energi nuklir itu sendiri. Isu penerimaan masyarakat adalah salah satu tantangan utama yang dihadapi dalam pengembangan energi nuklir di dunia," ungkap John. 

Ia menjelaskan, meskipun masyarakat mungkin secara umum menyetujui penggunaan energi nuklir, namun resistensi sering muncul ketika proyek ini akan dibangun dekat dengan tempat tinggal mereka. 

"Masyarakat mungkin bilang setuju pada prinsipnya, tetapi begitu proyek akan dibangun di dekat rumah mereka, banyak yang menolak. Itu adalah tantangan yang kita hadapi di mana-mana," tambahnya.

Di sisi lain, pengembangan PLTN juga memerlukan transparansi dan keterlibatan publik yang lebih besar. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah dan perusahaan seperti Pertamina NRE untuk terus menyosialisasikan manfaat dan keunggulan penggunaan energi nuklir bagi pembangunan nasional, sembari mengatasi kekhawatiran yang ada di kalangan masyarakat.

Regulasi dan Dukungan Pemerintah Menjadi Kunci Keberhasilan

Pembangunan infrastruktur energi nuklir di Indonesia membutuhkan regulasi yang jelas dan dukungan kuat dari pemerintah. Tidak hanya itu, pengembangan sektor ini juga memerlukan kerjasama dengan pihak-pihak terkait, baik dari sisi teknologi, keuangan, maupun sosial. 

Untuk itu, pemerintah harus mempercepat penyusunan regulasi dan kebijakan yang mendukung pengembangan energi nuklir yang aman, terjangkau, dan dapat diterima oleh masyarakat.

Penting bagi sektor nuklir untuk memastikan bahwa pembangkit listrik nuklir dapat beroperasi dengan aman dan efisien, serta dapat memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat dan sektor industri, terutama di area-area yang tidak terjangkau oleh jaringan listrik nasional.

Terkini