Tantangan E-Commerce Lintas Batas: Pajak, Regulasi, dan Kepatuhan

Rabu, 18 Februari 2026 | 12:04:30 WIB
Tantangan E-Commerce Lintas Batas: Pajak, Regulasi, dan Kepatuhan

JAKARTA - Industri e-commerce lintas batas terus berkembang pesat, mencatatkan transaksi global hampir USD 1,24 triliun pada tahun 2025, namun masih dihadapkan pada berbagai tantangan besar yang menghambat prosesnya. 

Meskipun permintaan untuk transaksi lintas negara terus meningkat, tingkat pembatalan pesanan tercatat sangat tinggi, mencapai sekitar 70 persen. 

Hal ini disebabkan oleh sejumlah faktor penting, seperti ketidakpastian terkait pajak, bea cukai, biaya pengiriman, serta ketatnya regulasi yang berlaku di masing-masing negara tujuan.

Menurut CEO Otto Media Grup, Budi Santoso, hambatan utama yang dihadapi bukan lagi pada adanya permintaan atau tidaknya produk, melainkan pada kemampuan untuk menyelesaikan transaksi dengan lancar, yang memperhatikan pajak, bea cukai, kebijakan platform, serta peraturan data yang berlaku di negara-negara tujuan. 

Dalam wawancara dengan media, Budi menegaskan bahwa tantangan utama saat ini adalah bagaimana merek-merek e-commerce mengelola dan memastikan kepatuhan terhadap berbagai regulasi yang semakin kompleks di berbagai negara.

Hambatan Utama dalam Transaksi E-Commerce Lintas Batas

Salah satu temuan utama dalam laporan E-Commerce Global Otto Media Grup 2025 adalah bahwa meskipun sektor e-commerce lintas batas menunjukkan angka yang impresif, banyak transaksi yang gagal diproses akibat masalah terkait kepatuhan pajak dan regulasi yang tidak terpenuhi. 

Hal ini mengindikasikan bahwa tantangan e-commerce lintas batas kini lebih terkait dengan penyelesaian transaksi yang sesuai dengan ketentuan hukum dan pajak yang berlaku di setiap negara, dibandingkan dengan masalah akuisisi pasar atau volume transaksi.

Contoh konkret dapat dilihat di Tiongkok, di mana ekspor dan impor e-commerce diperkirakan mencapai USD3.700 miliar pada 2024, namun pemerintah Tiongkok semakin memperketat regulasi terkait pajak dan pengawasan barang. 

Di Amerika Serikat, sistem bebas pajak untuk barang bernilai rendah diperkirakan akan berakhir pada 2025, yang diperkirakan akan memengaruhi sekitar 70 persen paket yang berasal dari Tiongkok. Di Uni Eropa, tanggung jawab platform dalam pemungutan dan pembayaran pajak semakin diperkuat setelah adanya reformasi pajak e-commerce yang lebih ketat. 

Hal ini menciptakan tantangan bagi banyak pelaku bisnis e-commerce yang sebelumnya mungkin belum mempersiapkan diri dengan baik untuk menghadapi ketentuan yang semakin ketat ini.

Kepatuhan Menjadi Kunci Keberhasilan E-Commerce Lintas Batas

Melihat perkembangan ini, Otto Media Grup menilai bahwa kompetisi dalam dunia e-commerce lintas batas saat ini sudah bergeser. Tidak lagi hanya soal periklanan besar atau peningkatan Gross Merchandise Value (GMV), tetapi lebih kepada bagaimana memastikan kepatuhan yang sempurna terhadap berbagai regulasi yang ada. 

Merek-merek e-commerce yang gagal memenuhi standar regulasi di berbagai negara sering kali terpaksa menghentikan sementara kampanye iklan atau menarik kembali produk mereka dari pasar internasional.

Budi Santoso menyebutkan bahwa pengelolaan risiko terkait kepatuhan lintas yurisdiksi menjadi tantangan terbesar bagi bisnis e-commerce di dunia saat ini. 

Banyak merek yang mengalokasikan anggaran besar untuk promosi dan subsidi guna meningkatkan GMV, namun proses seperti pelaporan pajak lintas batas, pengurusan dokumen bea cukai, serta pemenuhan peraturan data lokal masih sangat bergantung pada outsourcing dan pengalaman manual yang terfragmentasi.

Lebih dari setengah merek e-commerce lintas batas mengalami kerugian akibat masalah kepatuhan ini, dengan lebih dari sepertiga kerugian disebabkan oleh pesanan yang tidak dapat diselesaikan dengan lancar. 

Ini menunjukkan bahwa keberlanjutan bisnis e-commerce tidak hanya bergantung pada bagaimana memasarkan produk atau memperluas pasar, tetapi juga pada bagaimana sebuah perusahaan dapat beradaptasi dan mematuhi peraturan-peraturan yang terus berkembang di pasar internasional.

WorldBridge: Solusi untuk Mengatasi Tantangan E-Commerce Lintas Batas

Untuk mengatasi tantangan kepatuhan ini, Otto Media Grup mengembangkan modul WorldBridge, yang bertujuan untuk menyatukan berbagai sistem regulasi dan peraturan di seluruh dunia dalam satu platform yang dapat diakses dan dimonitor secara mudah oleh merek-merek e-commerce. 

Modul ini memungkinkan perusahaan untuk memetakan jalur kepatuhan lintas batas yang efektif, yang mencakup pajak, bea cukai, pemeriksaan platform, pengelolaan konten sensitif, dan persyaratan privasi dan data.

Budi menegaskan bahwa penggunaan modul WorldBridge terbukti memperpendek siklus perencanaan hingga pesanan pertama di pasar baru. 

Selain itu, modul ini juga dapat menurunkan tingkat penolakan pemeriksaan platform dan meminimalkan ketidakpastian terkait prediksi pajak lintas batas dan biaya pemenuhan. 

Dengan penerapan solusi ini, merek-merek e-commerce diharapkan dapat mengoptimalkan operasional mereka tanpa khawatir mengenai masalah kepatuhan yang dapat menghambat transaksi mereka.

Pendekatan Baru untuk Pertumbuhan E-Commerce Lintas Batas

Laporan tersebut menyimpulkan bahwa kompetisi dalam e-commerce lintas batas di masa depan tidak akan bergantung pada pemasaran besar atau peningkatan GMV yang cepat. 

Sebaliknya, kompetisi akan berfokus pada kemampuan untuk mengelola rantai pemenuhan yang tak terlihat, yang kini menjadi fondasi pertumbuhan yang andal bagi perusahaan-perusahaan e-commerce. 

Dalam hal ini, kepatuhan terhadap peraturan-peraturan lintas batas akan menjadi faktor utama yang menentukan apakah sebuah perusahaan dapat terus tumbuh dan bersaing di pasar global.

Budi Santoso juga menekankan pentingnya perubahan dalam pendekatan e-commerce yang selama ini berfokus pada pertumbuhan cepat. Perusahaan harus mulai beralih dari pendekatan berbasis peluang (opportunity-driven) menjadi pendekatan berbasis aturan (rule-driven). 

Kepatuhan harus menjadi dasar dalam setiap keputusan produk, harga, pemasaran, dan konten. Ini adalah langkah penting untuk memastikan keberlanjutan dan stabilitas pertumbuhan di pasar internasional.

Terkini