Doa Menyambut Ramadhan Singkat Penuh Makna Mudah Diamalkan

Rabu, 18 Februari 2026 | 09:06:27 WIB
Doa Menyambut Ramadhan Singkat Penuh Makna Mudah Diamalkan

JAKARTA - Menjelang hadirnya Ramadan, suasana hati umat Islam biasanya dipenuhi rasa rindu sekaligus harapan. Bulan yang sarat ampunan ini tidak sekadar pergantian waktu dalam kalender hijriah, melainkan momentum memperbaiki diri dan memperbanyak ibadah.

Karena itu, banyak kaum Muslimin mulai mempersiapkan diri dengan doa-doa khusus agar diberi kesempatan bertemu Ramadan dalam keadaan terbaik.

Di tengah beragam bacaan yang beredar, penting memahami mana doa yang memiliki dasar riwayat kuat dan mana yang sekadar populer di masyarakat. Ajaran Islam menuntun umatnya untuk beribadah berdasarkan dalil yang jelas agar amalan semakin bernilai di sisi Allah. 

Rasulullah SAW sendiri memberi contoh doa ketika melihat hilal sebagai tanda masuknya bulan baru, termasuk awal Ramadan. Pemahaman ini membantu umat Islam menyambut bulan suci dengan keyakinan yang benar, bukan sekadar mengikuti kebiasaan turun-temurun.

Doa Saat Hilal Terlihat sebagai Tanda Masuknya Bulan Baru

Ketika hilal tampak di langit, Rasulullah SAW memanjatkan doa sebagai bentuk pengakuan atas datangnya bulan baru. Momentum ini menjadi penanda resmi pergantian waktu dalam kalender hijriah, termasuk awal Ramadan. Riwayat dari Thalhah bin Ubaidillah menjelaskan kebiasaan Nabi tersebut dan dinilai hasan oleh para ulama sehingga menjadi rujukan kuat untuk diamalkan.

Lafal doa melihat hilal adalah:

اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْيُمْنِ وَالْإِيمَانِ، وَالسَّلَامَةِ وَالْإِسْلَامِ، رَبِّي وَرَبُّكَ اللَّهُ

Allâhumma ahillahu ‘alainâ bil yumni wal îmân, was salâmati wal islâm. Rabbî wa rabbukallâh.

Artinya: "Ya Allah, terbitkanlah bulan sabit itu kepada kami dengan membawa keberkahan dan keimanan, keselamatan dan Islam. Rabbku dan Rabbmu (wahai bulan) adalah Allah."

Doa ini memuat permohonan keberkahan, keselamatan, serta keteguhan iman. Ungkapan Rabbî wa rabbukallâh menegaskan tauhid bahwa bulan hanyalah ciptaan Allah. Dengan membacanya, seorang Muslim tidak sekadar menyambut datangnya Ramadan, tetapi juga memperbarui komitmen keimanan sejak awal.

Doa Menjelang Ramadan yang Diajarkan kepada Para Sahabat

Selain doa melihat hilal, terdapat riwayat lain yang dihimpun Imam ath-Thabarani dalam Kitab ad-Du’a. Doa ini diajarkan Rasulullah SAW kepada sahabat ketika Ramadan tiba, menunjukkan bahwa menyambut bulan suci merupakan bagian dari ibadah yang dipersiapkan dengan permohonan khusus kepada Allah.

Lafalnya berbunyi:

أللهمَّ سَلِّمْنِي مِنْ رَمَضَانَ، وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِي، وَتَسَلَّمْهُ مِنِّي مُتَقَبَّلًا

Allahumma salimni min ramadhana wa sallim ramadhana li wa tasallamhu minni mutaqabbalan.

Artinya: “Ya Allah, sampaikan aku (dengan selamat menuju bulan) Ramadan. Sampaikanlah Ramadan kepadaku, dan terimalah amal ibadahku di dalamnya.”

Makna doa ini menekankan tiga kebutuhan utama seorang hamba: umur panjang untuk bertemu Ramadan, kesempatan beribadah dengan baik, serta diterimanya amal. Tanpa kesehatan dan taufik dari Allah, Ramadan bisa berlalu tanpa meninggalkan perubahan berarti. Karena itu, doa ini menjadi bentuk kesiapan ruhani sebelum memasuki bulan penuh rahmat.

Doa Panjang Memohon Kekuatan Ibadah dan Lailatul Qadar

Riwayat dari Abdul Aziz bin Abi Rawad menunjukkan kesungguhan generasi awal Islam dalam menyambut Ramadan. Doa yang lebih panjang ini berisi permohonan kesabaran, kekuatan, semangat ibadah, hingga perlindungan dari rasa malas—tantangan terbesar selama menjalani puasa.

Lafalnya adalah:

اللّٰهمَّ أَظَلَّ شَهْرُ رَمَضَانَ وَحَضَرَ، فَسَلِّمْهُ لِي وَسَلِّمْنِي فِيهِ وَتَسَلَّمْهُ مِنِّي، اللهمَّ ارْزُقْنِي صِيَامَهُ وَقِيَامَهُ صَبْرًا واحْتِسَابًا، وَارْزُقَنِي فِيْهِ الْجَدَّ وَالْإِجْتِهَادَ والقُوَّةَ والنَّشَاطَ، وَأَعِذْنِي فِيهِ مِنَ السّآمَةِ وَالفَتْرَةِ وَالكَسَلِ والنُّعَاسِ، وَوَفِّقْنِي فِيهِ لِلَيْلَةِ الْقَدْرِ وَاجْعَلْهَا خَيْرًا مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Allahumma adhalla syahru ramadhana wa hadhara, fa sallimhu li wa sallimni fihi wa tasallamhu مني. Allahummarzuqnii shiyamahu wa qiyamahu shabran wahtisaban, warzuqni fihil jadda wal ijtihada wal quwwata wan nasyatha, wa a’idzni fihi minassaamati wal fatrati wal kasali wan nu’asi, wawaffiqnii fihi li lailatil qadri waj’alha khairan min alfi syahrin.

Artinya: “Ya Allah, bulan Ramadan telah datang. Sampaikanlah aku kepadanya dan terimalah amal ibadahku di dalamnya. Karuniakan kepadaku kesabaran, keikhlasan, kesungguhan, kekuatan, dan semangat. Lindungilah aku dari kemalasan dan kelemahan, serta berilah aku taufik meraih Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan.”

Doa ini menggambarkan bahwa keberhasilan Ramadan membutuhkan usaha sungguh-sungguh. Tanpa kesabaran dan perlindungan dari rasa malas, peluang meraih Lailatul Qadar bisa terlewat begitu saja.

Doa Keberkahan Rajab dan Sya’ban yang Populer Diamalkan

Di masyarakat, terdapat doa yang sering dibaca sebelum Ramadan:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

Allâhumma bârik lanâ fî Rajaba wa Sya‘bâna wa ballighnâ Ramadhâna.

Artinya: "Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah kami ke bulan Ramadan."

Sebagian ulama menilai riwayatnya lemah, sehingga tidak dapat dipastikan sebagai sunnah yang kuat. Meski begitu, kandungan doanya baik dan tidak bertentangan dengan syariat, sehingga boleh diamalkan sebagai doa umum tanpa meyakininya pasti berasal dari Rasulullah SAW.

Melalui berbagai doa tersebut, dapat dipahami bahwa menyambut Ramadan bukan sekadar tradisi, melainkan proses spiritual yang dipenuhi harapan. Doa menjadi pintu awal agar seorang Muslim memasuki bulan suci dengan hati bersih, niat kuat, serta kesiapan beribadah secara maksimal. Dengan memahami dasar riwayatnya, umat Islam dapat mengamalkan doa secara lebih tenang, tepat, dan penuh makna.

Terkini