IEA Prediksi Lonjakan Energi Terbarukan Global Hingga 2030

Rabu, 04 Februari 2026 | 15:51:12 WIB
IEA Prediksi Lonjakan Energi Terbarukan Global Hingga 2030

JAKARTA - Optimisme terhadap masa depan energi bersih global kembali menguat setelah International Energy Agency (IEA) merilis laporan tahunan Renewables 2025.

Laporan ini memproyeksikan lonjakan besar kapasitas listrik energi terbarukan dunia hingga akhir dekade. Bagi banyak negara, termasuk Indonesia, prediksi ini bukan sekadar kabar baik, tetapi juga penanda arah kebijakan energi yang semakin tidak terelakkan.

IEA memprediksi kapasitas energi terbarukan global akan lebih dari dua kali lipat pada 2030. Secara kumulatif, tambahan kapasitas diperkirakan mencapai 4.600 gigawatt (GW), angka yang setara dengan gabungan total kapasitas pembangkit listrik China, Uni Eropa, dan Jepang. 

Lonjakan ini mencerminkan percepatan transisi energi yang kian masif, meski di tengah tekanan rantai pasok, tantangan integrasi jaringan, kenaikan biaya pembiayaan, serta dinamika kebijakan di sejumlah negara utama.

Lonjakan Kapasitas dan Dominasi Energi Surya

Pertumbuhan kapasitas energi terbarukan global hingga 2030 akan sangat didominasi oleh tenaga surya. IEA mencatat sekitar 80 persen tambahan kapasitas berasal dari solar PV, didorong oleh biaya teknologi yang terus menurun dan proses perizinan yang relatif lebih cepat dibanding sumber energi lain. Setelah surya, kontribusi datang dari angin, hidro, bioenergi, serta panas bumi.

Ketua Indonesia Center for Renewable Energy Studies (ICRES), Surya Darma, menyebut prediksi ini sebagai kabar menyegarkan di tengah krisis iklim global. 

“Ini kabar yang sangat menyegarkan di tengah isu krisis iklim. Bayangkan, tambahan 4.600 GW itu bukan jumlah yang kecil itu seperti membangun tulang punggung energi baru untuk seluruh planet hanya dalam hitungan tahun,” kata Surya Darma.

Menurutnya, laporan Renewables 2025 tidak hanya berbicara soal angka, tetapi menjadi sinyal kuat bahwa transisi energi telah bergeser dari wacana menjadi arus utama. 

Lonjakan kapasitas global ini juga membawa implikasi langsung terhadap penurunan biaya teknologi, terutama panel surya dan sistem penyimpanan energi, yang akan semakin terjangkau bagi pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dampak Global terhadap Arah Kebijakan Nasional

Surya Darma menilai prediksi IEA membawa tekanan sekaligus peluang bagi kebijakan energi nasional. Salah satu dampaknya adalah meningkatnya akses terhadap pendanaan hijau. 

Tren global ini mendorong lembaga donor dan investor internasional untuk lebih agresif mengalihkan modal dari energi fosil ke proyek energi terbarukan, termasuk melalui skema seperti Just Energy Transition Partnership (JETP).

“Akan berdampak pada percepatan target emisi. Indonesia kemungkinan akan merasa perlu menyelaraskan kembali target Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik agar tidak tertinggal dari standar rantai pasok global yang semakin hijau,” jelas Surya Darma.

Meski secara kuantitas Indonesia belum menjadi pemain terbesar seperti China atau Uni Eropa, posisinya dinilai sangat strategis secara kualitatif. 

Indonesia merupakan pemilik cadangan panas bumi terbesar di dunia, menjadikannya salah satu kontributor penting dalam sektor geothermal global. 

Selain itu, peran Indonesia sebagai paru-paru karbon dan produsen bioenergi melalui pengembangan B35/B40 serta potensi Carbon Capture Storage (CCS) turut memperkuat kontribusi terhadap penyeimbangan emisi global.

Indonesia juga memiliki peran krusial dalam rantai pasok hijau dunia. Dengan cadangan nikel yang melimpah, Indonesia menjadi pemain kunci dalam produksi baterai kendaraan listrik, komponen vital dalam ekosistem energi terbarukan global.

Tantangan Struktural dan Hambatan Domestik

Meski optimisme menguat, Surya Darma menegaskan prediksi IEA bukan solusi instan. “Jujur saja, prediksi IEA adalah katalis, bukan tongkat ajaib. Prediksi ini membantu mengatasi kendala ekonomi, tetapi kendala struktural tetap harus diselesaikan secara internal,” ujarnya.

Salah satu tantangan utama adalah integrasi jaringan listrik. Pertumbuhan surya yang pesat membawa persoalan intermitensi karena pasokan listrik tidak stabil. Indonesia masih membutuhkan investasi besar pada teknologi smart grid agar sistem kelistrikan mampu menyerap energi terbarukan secara optimal.

Selain itu, kendala regulasi dan perizinan juga menjadi perhatian. Meski secara global proses perizinan semakin cepat, sinkronisasi kebijakan antara pemerintah pusat, daerah, dan PLN di Indonesia masih kerap menghambat pengembang swasta. 

Tantangan lain datang dari kelebihan pasokan listrik berbasis fosil, khususnya batubara, yang membuat transisi energi tidak bisa berjalan otomatis tanpa kebijakan pensiun dini pembangkit yang kuat.

Dinamika Global dan Risiko Integrasi Energi

IEA juga mencatat panas bumi diproyeksikan mencetak rekor pemasangan baru di sejumlah pasar utama, termasuk Amerika Serikat, Jepang, Indonesia, dan negara berkembang lainnya. 

Bersamaan dengan itu, minat terhadap pumped-storage hydropower meningkat seiring kebutuhan integrasi jaringan, dengan pertumbuhan hampir 80 persen lebih cepat dalam lima tahun ke depan dibanding periode sebelumnya.

Di kawasan Asia, Timur Tengah, dan Afrika, energi terbarukan tumbuh lebih cepat berkat biaya yang semakin kompetitif dan kebijakan yang agresif. India bahkan disebut berada di jalur menjadi pasar energi terbarukan terbesar kedua dunia setelah China.

Namun, tidak semua sektor tumbuh mulus. Angin lepas pantai mengalami revisi penurunan prospek akibat perubahan kebijakan, hambatan rantai pasok, dan lonjakan biaya. Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, mengingatkan bahwa dominasi surya harus diimbangi perhatian serius terhadap keamanan rantai pasok dan integrasi jaringan.

 “Seiring meningkatnya peran energi terbarukan dalam sistem kelistrikan di banyak negara, pembuat kebijakan perlu memberi perhatian serius pada keamanan rantai pasok dan tantangan integrasi jaringan,” ujarnya.

Di balik euforia, risiko laten tetap membayangi. Konsentrasi rantai pasok solar PV dan elemen tanah jarang masih sangat bergantung pada China. Selain itu, meningkatnya energi terbarukan variabel memicu fenomena curtailment dan harga listrik negatif, menandakan urgensi investasi pada jaringan dan penyimpanan energi.

Terkini