Laba BNI Diproyeksi Pulih Tahun 2026 Didorong Kredit

Rabu, 04 Februari 2026 | 11:09:14 WIB
Laba BNI Diproyeksi Pulih Tahun 2026 Didorong Kredit

JAKARTA - Pemulihan kinerja perbankan pelat merah kembali menjadi sorotan seiring masuknya tahun baru. Setelah menghadapi tekanan laba pada 2025, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. mulai menunjukkan sinyal perbaikan yang lebih jelas.

 Sejumlah analis menilai fondasi pertumbuhan kredit yang telah dibangun sepanjang tahun lalu menjadi modal penting bagi BNI untuk kembali menguat pada 2026, terutama di tengah meningkatnya permintaan pembiayaan dari sektor korporasi dan segmen usaha berorientasi sosial.

Optimisme ini muncul bukan tanpa alasan. Pergerakan kredit yang konsisten serta proyeksi membaiknya pendapatan bunga menjadi faktor utama yang menopang peluang pemulihan laba. 

Meski capaian laba bersih 2025 masih tercatat menurun secara tahunan, arah perbaikan dinilai mulai terlihat dan berpotensi berlanjut pada tahun berjalan.

Prospek Pemulihan Laba BNI Tahun Depan

Laba PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) diperkirakan akan kembali pulih pada 2026. Prospek tersebut ditopang oleh akselerasi pertumbuhan kredit yang dinilai solid sepanjang 2025 dan diperkirakan berlanjut ke tahun berikutnya. 

Sarah Jane Mahmud, Senior Industry Analyst Bloomberg Intelligence, menyampaikan bahwa pertumbuhan kredit yang kuat menjadi katalis penting bagi kinerja BNI ke depan.

“Laba Bank Negara Indonesia diperkirakan akan pulih pada tahun 2026 berkat pertumbuhan pinjaman yang kuat setelah lonjakan 15,9% tahun lalu yang dipimpin oleh permintaan dari sektor korporasi,” tulisnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kinerja kredit BNI pada 2025 menjadi pijakan utama dalam menghadapi 2026. Permintaan pembiayaan yang tinggi, khususnya dari korporasi, dinilai mampu mendorong perbaikan profitabilitas bank secara berkelanjutan.

Pertumbuhan Kredit Dan Peran Segmen Strategis

Selain sektor korporasi, Bloomberg Intelligence juga menyoroti potensi peningkatan kredit di segmen usaha kecil dan berorientasi sosial. Segmen ini dinilai sejalan dengan mandat pemerintah yang diemban oleh bank-bank BUMN, termasuk BNI. 

Dengan dukungan kebijakan dan kebutuhan pembiayaan yang terus berkembang, segmen tersebut diperkirakan turut berkontribusi terhadap pertumbuhan kredit pada 2026.

Analis menilai bahwa diversifikasi sumber pertumbuhan kredit menjadi keunggulan tersendiri bagi BNI. Ketergantungan yang tidak hanya pada satu segmen diharapkan mampu menjaga stabilitas kinerja di tengah dinamika ekonomi. 

Kuatnya permintaan dari korporasi, yang tercatat meningkat signifikan pada 2025, juga menjadi penopang utama bagi ekspansi kredit perseroan.

Dalam konteks ini, pertumbuhan kredit tidak hanya berfungsi sebagai pendorong volume bisnis, tetapi juga sebagai fondasi bagi peningkatan pendapatan bunga di masa mendatang. Dengan kualitas kredit yang tetap terjaga, akselerasi pembiayaan berpotensi memberikan dampak positif terhadap kinerja laba.

Dinamika Pendapatan Bunga Dan NII

Bloomberg Intelligence juga memperkirakan bahwa pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) BBNI yang relatif stagnan pada 2025 memiliki peluang untuk meningkat pada tahun ini. Proyeksi tersebut didasarkan pada kuatnya permintaan kredit korporasi yang meningkat 17,5% sepanjang 2025.

Berdasarkan laporan kinerja perseroan yang telah dipublikasikan, BNI membukukan pendapatan bunga sebesar Rp69,39 triliun pada 2025. Angka tersebut meningkat 4,22% secara tahunan dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp66,58 triliun. Namun, di sisi lain, beban bunga juga mengalami kenaikan yang lebih tinggi, yakni 11,33% secara tahunan menjadi Rp29,06 triliun.

Dengan kondisi tersebut, pendapatan bunga bersih BNI sepanjang 2025 tercatat sebesar Rp40,33 triliun. Capaian ini turun tipis 0,36% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp40,48 triliun. Tekanan pada NII inilah yang menjadi salah satu faktor penyebab menurunnya laba bersih perseroan pada tahun lalu.

Meski demikian, analis melihat peluang perbaikan NII seiring dengan berlanjutnya pertumbuhan kredit dan potensi penyesuaian strategi pendanaan. Jika permintaan pembiayaan tetap kuat dan struktur biaya bunga dapat dikelola dengan lebih efisien, NII berpotensi kembali tumbuh pada 2026.

Kinerja Keuangan Dan Tantangan Ke Depan

Dalam laporan Bisnis sebelumnya, BBNI mencatatkan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp20,11 triliun hingga Desember 2025. Raihan tersebut mengalami penurunan 7,15% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp21,66 triliun. 

Penurunan laba ini mencerminkan tekanan yang dihadapi industri perbankan, termasuk kenaikan biaya dana dan dinamika ekonomi yang belum sepenuhnya stabil.

Meski laba menurun, sejumlah indikator fundamental menunjukkan bahwa BNI masih memiliki ruang untuk bangkit. Pertumbuhan kredit yang kuat, khususnya dari segmen korporasi, menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan bisnis. Selain itu, komitmen untuk mendukung pembiayaan usaha kecil dan sektor sosial dinilai dapat memperluas basis nasabah sekaligus memperkuat peran BNI dalam perekonomian nasional.

Ke depan, tantangan utama bagi BNI adalah menjaga keseimbangan antara ekspansi kredit dan pengelolaan risiko. Stabilitas kualitas aset serta efisiensi biaya menjadi faktor kunci agar pertumbuhan kredit dapat benar-benar berujung pada peningkatan laba. 

Dengan strategi yang tepat dan dukungan kondisi ekonomi yang membaik, peluang pemulihan laba pada 2026 dinilai tetap terbuka lebar.

Terkini

Berapa Modal Usaha Kopi Keliling? Simak Pembahasan Ini

Rabu, 04 Februari 2026 | 14:20:47 WIB

10 Contoh Struktur Perusahaan untuk Efisiensi Bisnis

Rabu, 04 Februari 2026 | 14:20:47 WIB

Dampak Minum Kopi terhadap Perubahan Tekanan Darah Tubuh

Rabu, 04 Februari 2026 | 13:49:21 WIB