Kampoeng Djadhoel: Menyelami Sejarah dan Budaya Semarang

Senin, 26 Januari 2026 | 09:30:37 WIB
Kampoeng Djadhoel: Menyelami Sejarah dan Budaya Semarang

JAKARTA - Semarang, kota yang kaya akan sejarah, tak hanya dikenal dengan keindahan Kota Lama dan deretan bangunan kolonialnya. 

Di balik hiruk-pikuk kota, terdapat sebuah tempat yang menawarkan nuansa berbeda dan mampu membawa pengunjung menjelajahi sejarah serta budaya kota ini. 

Kampoeng Djadhoel, sebuah destinasi wisata unik di kawasan Kelurahan Rejomulyo, Semarang Timur, memberikan pengalaman yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga edukatif, berfokus pada pelestarian batik Semarang serta kuliner tradisional yang kini mulai langka.

Sejak pertama kali dibuka pada 2017, Kampoeng Djadhoel berhasil menciptakan ruang interaktif yang memadukan wisata budaya, kuliner, dan pendidikan. 

Di tengah kesibukan kota Semarang, tempat ini menawarkan suasana yang membawa pengunjung seolah melangkah mundur ke masa lalu. 

Dengan berbagai mural, bangunan bergaya tradisional, dan kedai kuliner legendaris, Kampoeng Djadhoel menawarkan lebih dari sekadar wisata, melainkan pengalaman budaya yang khas.

Menyusuri Sejarah Melalui Mural dan Bangunan Tradisional

Begitu memasuki Kampoeng Djadhoel, pengunjung akan langsung disambut dengan suasana yang kental dengan nuansa tempo dulu. Di sepanjang jalan kecil yang dihiasi dengan mural bertema budaya dan sejarah, pengunjung dapat merasakan atmosfer Semarang di masa lalu. 

Mural sepanjang 24 meter yang menceritakan sejarah batik dan kebudayaan lokal menjadi daya tarik utama, terutama bagi generasi muda yang ingin belajar lebih dalam tentang warisan budaya kota ini.

Selain mural, kehadiran bangunan tradisional dengan atap jerami dan dinding yang dihiasi ornamen batik semakin memperkaya suasana. Papan bertuliskan Kampoeng Djadhoel menjadi penanda bahwa di sini, sejarah dan budaya kota Semarang tidak hanya dipelajari tetapi juga dilestarikan. 

Pengelola Kampoeng Djadhoel, Ignatius Luwiyanto, menjelaskan bahwa tempat ini dirancang dengan tujuan untuk menyampaikan nilai edukasi tentang batik Semarang, sejarah kota, serta kearifan lokal kepada masyarakat luas.

Mengenal Lebih Dekat Batik Semarang dan Kuliner Khas

Batik Semarang memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, salah satunya adalah Batik Asem Semarang, yang motifnya telah diakui sebagai warisan budaya tak benda pada tahun 2024. 

Kampoeng Djadhoel menjadi pusat pelestarian batik, dengan dua toko batik yang menjual karya para perajin lokal. Selain itu, tempat ini juga sering dijadikan tujuan penelitian oleh mahasiswa yang tertarik mempelajari kekayaan budaya Semarang, terutama batik.

Tak hanya batik, Kampoeng Djadhoel juga menghidupkan kembali kuliner tradisional Semarang yang kini mulai sulit ditemukan. Di sini, pengunjung bisa menikmati berbagai jenis makanan khas, seperti Sego Glewo, pohung (ubi), dan wedhang jarem yang merupakan minuman khas yang terbuat dari jahe, serai, dan lemon. 

Sego Glewo, yang merupakan kuliner legendaris yang telah ada sejak 1931, terbuat dari sapi dan koyor (otot) yang dimasak dengan kuah santan, dan menjadi favorit masyarakat Semarang di masa lalu.

Selain itu, pengunjung juga bisa menemukan jajanan pasar yang populer di Semarang, seperti lumpia, wingko babat, dan berbagai jenis jamu tradisional. Semua kuliner ini tidak hanya menawarkan rasa, tetapi juga menyimpan cerita sejarah yang bisa dipelajari lewat buku panduan yang disediakan, lengkap dengan kode QR yang bisa dipindai di setiap sudut Kampoeng Djadhoel.

Aktivitas Wisata yang Menarik dan Edukatif

Kampoeng Djadhoel menawarkan lebih dari sekadar pemandangan indah dan kuliner lezat. Tempat ini juga menyediakan berbagai aktivitas edukatif yang dapat diikuti oleh pengunjung dari segala usia. 

Salah satu kegiatan unggulan adalah pembelajaran membatik. Pengunjung dapat memilih paket wisata yang menyertakan pembelajaran batik, lengkap dengan peralatan dan materi mengenai sejarah serta teknik membatik. Paket ini dibanderol mulai dari Rp 50.000, dan hasil karya batik yang dibuat dapat dibawa pulang sebagai kenang-kenangan.

Selain membatik, pengunjung juga dapat menjajal berbagai aktivitas lain, seperti menjelajahi kampung dengan tur sejarah atau membeli berbagai produk batik asli Semarang sebagai oleh-oleh. 

Semua kegiatan ini dikemas dalam konsep wisata yang ramah bagi keluarga, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, menjadikannya tempat yang sempurna untuk mengenalkan budaya kepada generasi muda.

Kampoeng Djadhoel dan Pelestarian Budaya Kota Semarang

Kampoeng Djadhoel tidak hanya menjadi tempat wisata, tetapi juga bagian penting dari upaya pelestarian budaya Kota Semarang, terutama dalam menjaga warisan batik Semarang yang kaya akan sejarah dan makna. 

Sejak didirikan pada tahun 2017, Kampoeng Djadhoel telah berhasil menarik perhatian banyak wisatawan, baik lokal maupun mancanegara, berkat konsep yang menggabungkan budaya, edukasi, dan ekonomi kreatif.

Menurut Luwiyanto, meskipun letaknya strategis di pusat kota, Kampoeng Djadhoel berhasil mempertahankan nuansa pedesaan yang tenang dan penuh pesona. Ini menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka yang ingin melarikan diri sejenak dari kesibukan kota besar. 

Sebagai bagian dari Kampung Batik Semarang, yang sempat vakum akibat pembakaran oleh tentara Jepang pada tahun 1945, Kampoeng Djadhoel kini menjadi simbol kebangkitan kembali seni batik di kota ini, yang terus dijaga dan dilestarikan oleh generasi muda.

Keberadaan Kampoeng Djadhoel juga memberikan dampak positif bagi ekonomi lokal. Banyak pengusaha kecil dan pelaku usaha kuliner yang kini dapat merasakan manfaat dari kunjungan wisatawan yang datang ke tempat ini. 

Dengan adanya pengakuan terhadap Batik Semarang sebagai warisan budaya tak benda, Kampoeng Djadhoel semakin menjadi destinasi wisata yang tak boleh dilewatkan oleh siapa pun yang berkunjung ke Semarang.

Terkini